Adapun mulainya Maulid Nabi sesuai kesepakatan dari tokoh ulama dan masyarakat setempat. Setiap kampung berbeda waktu start Maulid Nabi, ada yang habis sholat Duhur ada pula ba’da sholat Asar.
“Setiap tahun saya selalu hadir pada acara Maulid Nabi. Disamping untuk membaca sholawat pada Nabi, juga bisa silaturahmi dengan teman-teman yang jarang ketemu,” terang salah seorang warga setempat, Herman.
Maklum, sambung Herman, selama ini sebagian besar temannya merantau ke luar pulau, ketika Maulid Nabi mereka datang semua. Sehingga tali silaturahmi yang mulai renggang bisa dipererat kembali.
“Bagi masyarakat di sini Maulid Nabi dianggap sebagai lebaran kedua. Semua warga merayakan Hari Kelahiran Nabi Muhammad SAW. Jadi yang ada di perantauan mudik ke kampung halaman,” ungkapnya.
Sementara itu, salah satu tokoh masyarakat setempat, H Zakaria menyatakan, setiap tanggal 11 Rabiul Awal Tahun Hijriah warga Madura menggelar Maulid Nabi dengan cara mengundang tetangga, keluarga dan ulama untuk membaca doa di rumah mereka.
“Tidak hanya satu rumah yang menggelar Maulid Nabi pada hari ini, tetapi banyak. Sehingga acara yang dimulai pertama kali dari ba’da Asar selesainya sampai Isak,” terang Zakaria.