Mogok Kerja Tuntut Kenaikan Upah, Buruh di Bengkulu Kena PHK

Demon Fajri, Okezone · Senin 04 Januari 2016 15:26 WIB
https: img.okezone.com content 2016 01 04 340 1280372 mogok-kerja-tuntut-kenaikan-upah-buruh-di-bengkulu-kena-phk-iAMKenEKAM.jpg Buruh pupuk di Bengkulu yang melakukan mogok kerja menuntut kenaikan upah bongkar (Demon Fajri/Okezone)

BENGKULU - Puluhan buruh gudang yang tergabung dalam Serikat Pekerja Seluruh Indonesia (SPSI) Serikat Pekerja Putra Bengkulu, Kelurahan Kampung Melayu, Kecamatan Kampung Melayu, Kota Bengkulu, Provinsi Bengkulu, menggelar aksi mogok di Gudang Penyangga Bengkulu, PT Petrokimia Gresik, PT. Bhanda Graha Reksa (BGR), Cabang Utama Palembang.

Aksi mogok itu dipicu, lantaran mereka menuntut kenaikan harga upah bongkar dari Rp6.000 per ton, naik menjadi Rp24.000 per ton. Akibat aksi mogok itu, para buruh langsung di Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) sepihak oleh pihak perusahaan.

Sementara, akibat aksi mogok tersebut, aktivitas di perusahaan menjadi lumpuh total. Sebanyak delapan unti truk yang berisi sekira 160 ton pupuk menumpuk di areal gudang perusahaan.

''Kami menuntut hak kami. Kami minta naikkan upah bongkar. Sebab, biaya upah itu tidak masuk akal,'' kata koordinator aksi, Debi Januari, kepada Okezone, Senin (4/1/2016).

Debi menambahkan, permintaan para buruh untuk dinaikan upah bongkar karena besarnya resiko pekerjaan yan gharus ditanggung para buruh. Sebagai gambaran, satu truk berisi 20 ton pupuk, harus diangkut ke dalam gudang dengan cara dipikul, dengan jarak sekira 30 meter.

''Kalau ada yang keselo atau musibah lainnya saat bongkar, seluruh biaya kita tanggung sendiri. Sementara upah bongkar sama sekali tidak masuk akal,'' ujar Debi.

Sementara, Kepala Gudang Penyangga Bengkulu, PT Petrokimia Gresik, PT Bhanda Graha Reksa, Cabang Utama Palembang, Beni Septian, membantah, jika telah mem- PHK sepihak terhadap buruh. PHK tersebut dilakukan, lantaran pihak buruh enggan membongkar pupuk yang masuk ke gudang perusahaan.

''Mereka tidak mau bongkar karena tidak sesuai upah. Tentunya perusahaan rugi. Di dalam perusahaan kita memiliki aturan. Kita tidak mem-PHK sepihak, karena merasa dirugikan makanya keluar PHK,'' jelas Beni.

Terkait tuntutan kenaikan upah bongkar, Beni menjelaskan, pihak perusahaan tidak menyanggupi tuntutan tersebut. Sebab, perusahaan hanya sanggup mengeluarkan biaya bongkar untuk satu mobil sebesar Rp100 ribu atau sekira 20 ton pupuk, sesuai dengan isi muatan per satu truk.

(fds)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini