Tapi yang pasti, pertempuran ini terjadi saat hubungan Indonesia dan Belanda masih “panas-panasnya” soal perseteruan “hak asuh” terkait Irian Barat – kawasan paling timur yang tak juga dilepas Belanda, kendati sudah mengakui kedaulatan Republik Indonesia sejak 27 Desember 1949.
Pertempuran Laut Aru terjadi sekira pukul 21.00 WIT (Waktu Indonesia Timur), saat tiga kapal perang milik Angkatan Laut Republik Indonesia (ALRI, kini TNI AL) itu terlacak pengintaian Pesawat Neptune milik Koninklije Marine (Angkatan Laut Belanda) dan kemudian dihadang Kapal Perusak Evertsen dan Kortenaer.
Kronologi yang dinukil dari buku ‘Bung Karno: Masalah Pertahanan-Keamanan’ menyebutkan, serangan pertama oleh Pesawat Neptune dilancarkan pada 21.45, tapi gagal lantaran peluru suar pesawat macet.
Lima menit berselang, komando yang dipegang Yos Sudarso memerintahkan ketiga kapal putar haluan. Pada 22.02, serangan udara Pesawat Neptune kembali dilancarkan dengan roket. Beruntung, serangan kedua itu tak mengenai sasaran dan langsung dibalas tembakan antipesawat dari KRI Matjan Kumbang.