SEMENJAK Perang Dunia II usai, perseteruan Belanda-Indonesia jadi salah satu isu yang paling disoroti dunia. Kendati revolusi fisik (1945-1949) telah rampung pasca pengakuan kedaulatan Belanda pada 27 Desember 1949, friksi dua negara ini tak serta-merta menemui titik akhir.
Persoalannya terletak pada keras hatinya Presiden RI, Ir. Soekarno terkait status Irian Barat yang sejak 1949 sampai 1962, masih di tangan Belanda. Pertempuran laut di Arafuru (Aru) pun sempat terjadi.
Wakil Panglima Angkatan Laut Republik Indonesia (ALRI, kini TNI AL), Komodor Yosaphat “Yos” Sudarso turut jadi korban, tatkala Kapal Perusak “Evertsen” Belanda menenggelamkan KRI Matjan Tutul pada 15 Januari 54 tahun silam (1962).
Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dan Media-media asing pun tak ketinggalan menyoriti insiden tersebut yang sempat mencuatkan tuduhan dari Belanda, disusul bantahan Kepala Staf KOTI (Komando Tertinggi) Mayjen Ahmad Yani, soal tudingan Indonesia ingin menginvasi Irian Barat.
Sebagaimana dinukil dari buku ‘Sukarno, Tentara, PKI: Segitiga Kekuasaan Sebelum Praharat Politik: 1961-1965’, Sekjen PBB saat itu, U Thant, kembali menyerukan pada Indonesia dan Belanda soal pencarian solusi damai soal sengketa Irian Barat.
“Saya mencemaskan soal kabar-kabar pers, soal insiden pertempuran kapal-kapal Angkatan Laut Belanda dan Indonesia di sekitar perairan Irian Barat,” ungkap U Thant.
Sementara, sejumlah media internasional juga tak kalah gencar memberitakan insiden tersebut. Radio Australia pada sehari pasca-insiden, memberitakan soal Kapal Perusak Belanda, “Evertsen” yang menawan 50 awak kapal KRI Matjan Tutul yang sempat berusaha menyelamatkan diri.
Radio dari “Negeri Kanguru” itu juga menyoroti soal siapa yang pertama melepaskan tembakan. Adapun media asing lainnya, AFP, menuliskan: “Kapal-kapal perang Belanda mulai menembaki formasi kapal-kapal perusak Indonesia di perairan teritorial Belanda yang beregerak ke arah pantai Selatan Irian Barat.
Sedangkan media internasional lainnya, Reuters dan DPA, “meng-cover” pernyataan Den Haag, di mana mereka menuding bahwa kapal-kapal Indonesia yang pertama kali melepas tembakan ke kapal perang Belanda.
Amerika Serikat (AS) sebagai salah satu kutub adi daya pada saat itu, turut mengkhawatirkan, bahwa jika negara-negara barat terus menekan Indonesia, negara yang dahulunya bernama Hindia-Belanda itu malah akan kian erat dengan blok timur – Uni Soviet.
Seperti dikutip dari buku ‘Between the Tides’, Presiden AS saat itu, John Fitzgerald Kennedy pun mengutus adiknya, Robert F. Kennedy ke Jakarta, untuk bertemu Presiden Soekarno, demi mencari solusi perseteruan Indonesia-Belanda.
(Randy Wirayudha)
News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.