Advertisement
Advertisement
Advertisement
INFOGRAFIS INDEKS
Advertisement

Duh! Hutan TNKS Diobral, Perbidang Rp2 Juta

Duh! Hutan TNKS Diobral, Perbidang Rp2 Juta
Kawasan taman nasional kerinci sebelat (foto: Infojambi)
A
A
A

BANGKO - Perambahan hutan di Kecamatan Jangkat, Lembah Masurai dan Jangkat Timur, Merangin, kian parah. Tak hanya Hutan Produksi (HP) yang dirambah, tapi juga Kawasan Taman Nasional Kerinci Sebelat (TNKS). Parahnya lagi hutan tersebut dijual warga lokal dan eksodus dengan harga sekitar dua juta perbidang.

Dijualnya hutan tnks oleh warga di kawasan Luhak 16 tepatnya di perbatasan Kecamatan Lembah Masurai dengan Kecamatan Jangkat ,kawasan Desa Sungai Lalang dengan Eks Serampas tersebut di benarkan oleh Yazen salah satu pengurus Forum Masyarakat Adat Serampas (FMAS).

“Ya, memang kami menemukan ada warga yang mulai merambah kawasan Luhak 16 tepatnya di perbatasan Kecamatan Lembah Masurai dengan Kecamatan Jangkat. Menurut pengakuan mereka dia membeli ke salah satu oknum warga lokal dengan jumlah sekitar dua juta perbidang,” ungkap salah seorang pengurus Forum Masyarakat Adat Serampas (FMAS), Yazen.

Dilanjutkannya, hal ini sengaja menjual hutan ke warga pendatang. Parahnya lagi hutan-hutan yang dilarang untuk dirambah tersebut dijual dengan harga murah.

"Ada orang kita yang jual (hutan) ke orang Bengkulu. Makanya mereka berani nebang hutan dan buka lahan," lanjutnya, dikutip dari Infojambi, Sabtu (20/2/2016).

Menykapi hal tersebut maka pihaknya dari FMAS bersama depati dan pemerintah desa akan segera menggelar rapat, hal tersebut guna menyikapi permasalahan tersebut.

“Yang jelas kita tidak sepakat ulah oknum tersebut karena menjual kawasan yang termasuk dalam hutan produksi atau TNKS diwilayah tersebut. Jika hal ini tidak disikapi dengan segera ditakutkan hutan dan ekosistem yang ada di dalamnya akan punah dan menyebabkan rusaknya kawasan hutan yang seharusnya dilindungi,” sebutnya.

Yazen menambahkan, untuk membuktikan adanya jual beli sangat sulit. Apa lagi mereka sudah kompak untuk sama-sama diam dan melawan petugas.

"Kita sudah beberapa kali operasi, tapi gagal terus. Mereka kompak untuk tak buka suara dan juga untuk menghadang petugas," tutupnya.

(Amril Amarullah (Okezone))

      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Telusuri berita news lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement