Di belahan Bumi lain seperti Amerika Latin, mitos dan legenda mengenai gerhana matahari juga diwartakan secara turun temurun. Berdasarkan kepercayaan suku Maya dan Inka, orang Meksiko memandang gerhana matahari berbahaya bagi perempuan yang sedang hamil. Para calon ibu biasanya diwajibkan untuk berpakaian serba merah cerah dan menyematkan peniti pada pakaiannya guna menangkal bala.
Yunani menghubungkan fenomena bulan menghadang matahari ini dengan kisah dewa-dewinya yang terkenal. Rakyat Mesopotamia menyalakan lilin seraya berdoa agar matahari segera bersinar kembali.
Tradisi Roma menganggap gerhana terjadi akibat dosa-dosa manusia, karena ada serigala yang memakan bintang besar tersebut atau karena bulan sedang bersembunyi dari Tuhan. Sementara di Mesir, orang percaya bahwa gerhana matahari adalah hasil dari pertarungan antara Apophis si ular, Dewa Apophis dan Dewa matahari Ra. Apophis keluar sebagai pemenangnya, dan untuk mengembalikan matahari ke langit, Firaun (keturunan langsung dari matahari) pergi mengitari kuil Osiris sampai gerhana itu selesai.

Foto: Ular Apophi versus Dewa Ra. (gks.uk)