Sopir Taksi di DIY Tolak Angkutan Online Ilegal

Prabowo, Okezone · Senin 28 Maret 2016 17:36 WIB
https: img.okezone.com content 2016 03 28 510 1347539 sopir-taksi-di-diy-tolak-angkutan-online-ilegal-mHzTpdxn6f.jpg Taksi di DIY. (Prabowo/Okezone)

YOGYAKARTA – Paguyuban Taksi Argometer Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) menolak beroperasinya angkutan umum berbasis aplikasi online yang belum ini mendapat izin dari pemerintah setempat.

Pernyataan sikap tersebut disuarakan saat audiensi dengan Komisi C DPRD DIY. Perwakilan Taguyuban Taksi Argometer DIY, Sutiman, menegaskan pihaknya menerima teknologi tapi menolak aplikasi online itu jika digunakan angkutan ilegal.

"Kami tolak Uber, Grab, dan Go-jek. Di Yogyakarta jumlah taksi pelat hitam jumlahnya tidak terpantau, seperti cendol jumlahnya," kata Sutiman, dari perusahaan Taksi Pamungkas, Senin (28/3/2016).

Ia berharap pemerintah ke depan dapat menegakkan aturan sesuai ketentuan. Pemerintah harus lebih selektif dalam menerima aplikasi dan penggunaan kendaraan angkutan umum.

Taksi berargo di Yogyakarta jumlahnya kalah bersaing. Pemerintah diingatkan jangan sampai memberikan izin baru untuk armada taksi yang tidak penuhi prasyarat angkutan umum.

"Polisi jangan sampai terlena, nasib pengemudi dan jasa taksi seperti ‘Hidup segan, mati tak mau’. Pengemudi belum sejahtera," katanya.

Terkait penegakan aturan, pihaknya sudah berkirim surat kepada instansi yang berwenang dan ditembuskan ke Presiden Joko Widodo (Jokowi) untuk meminta pemerintah memerhatikan nasib pengemudi.

Sutata, anggota Komisi C DPRD DIY, merespons aksi sopir taksi itu. Ia menyatakan dukungan agar pengemudi dan perusahaan operator jasa angkutan umum, termasuk taksi, harus memenuhi persyaratan sesuai perizinan yang ada.

“Kalau ada operasional taksi ilegal, pengertian ilegal harus diperjelas, izin harus sesuai ketentuan hukum yang ada, jika ada penyimpangan, setuju jika penindakan lapangan harus dilakukan," kata Sutata.

Dharma Setiawan, wakil ketua DPRD DIY, menyatakan sangat mengapresiasi aspirasi paguyuban 15 armada taksi DIY, di antaranya Primkopolda, Taksi Pamungkas, Taksi Pataga, Taksi Centris, Ventris Taxi, Taksi Rajawali, Asa Taksi, Indra Kelana, Sadewa, Ria Taksi, dan Setia Kawan.

Ia mengatakan, teknologi aplikasi online tidak bisa ditolak keberadaannya, hanya bagaimana bermanfaat dan adil bagi semuanya. Teknologi bisa dimanfaatkan agar pelayanan taksi makin istimewa di DIY. "Kalau petugas mau jalankan penegakan peraturan, kita minta Polda dan Dinas Perhubungan (DIY) bekerja lakukan tugasnya," kata Dharma.

Harry Agus Triyono, kabid Angkutan Darat Dinas Perhubungan Kominfo DIY, menjelaskan bahwa saat ini ada taksi reguler mencapai 1.000 unit, sementara taksi premium ada 50 yang berizin dan baru beroperasi 25 unit.

"Kalau sesuai ketentuan angkutan sewa bisa berpelat hitam, tapi bertanda khusus seperti angkutan untuk barang khusus, angkutan bandara ada 15 kendaraan, rental, dan lainnya. Kita membatasi dengan syarat berbadan hukum, kalau rental mobil masih ada yang perseorangan," katanya.

(sal)

(ful)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini