TOKYO – Jepang telah menyampaikan kekhawatirannya mengenai kehadiran Rusia di pulau sengketa, akibat kemungkinan Negeri Beruang Merah membangun markas Angkatan Laut (AL) di gugusan pulau Pasifik barat.
Dilaporkan, kekhawatiran ini disampaikan oleh juru bicara pemerintah Negeri Sakura pada Senin 28 Maret dan ini menjadi isu terbaru dalam perebutan justifikasi terhadap pulau sengketa tersebut.
Kekhawatiran ini sebenarnya berasalan karena pekan lalu Menteri Pertahanan (Menhan) Rusia Sergei Shoigu memberikan komentar bahwa Rusia sedang mempelajari kemungkinan untuk membangun markas AL di Pulau Kurile.
Namun, Jepang juga memberikan klaim terhadap bagian selatan gugusan pulau itu yang pasukan Uni Soviet ambil alih pada akhir Perang Dunia II. Saling klaim terhadap wilayah ini menjadikan pulau tersebut menjadi sengketa, yang hampir mirip kasusnya dengan sengketa Laut China Selatan.
Wilayah sengketa tersebut disebut sebagai Teritori Utara oleh Jepang sedangkan Rusia menyebutnya sebagai Kurile Selatan.
“Kami menginformasikan kepada Rusia melalui jalur diplomatis bahwa kami prihatin terhadap komentar dari Menhan Shoigu. Kami juga memberi tahu mereka (Rusia) jika infrastruktur militer Rusia semakin meningkat di Teritori Utara, ini akan berlawanan dengan prinsip dari Jepang,” ujar Sekretaris Pimpinan Kabinet, Yoshide Suga, sebagaimana dilansir dari Reuters, Selasa (29/3/2016).
(Emirald Julio)
News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.