Advertisement
Advertisement
Advertisement
INFOGRAFIS INDEKS
Advertisement

Menjaga Buah Karya Songket Aceh

Rayful Mudassir , Jurnalis-Jum'at, 22 April 2016 |11:17 WIB
Menjaga Buah Karya Songket Aceh
Dahlia (55), pengrajin songket Aceh (Rayful Mudassir/Okezone)
A
A
A

BANDA ACEH – Kain tenun songket Aceh sudah tak bisa dipisahkan dari Dahlia (55). Meski kini sibuk mengurus cucu, warga Gampong Siem, Kecamatan Darussalam, Kabupaten Aceh Besar, itu selalu menyempatkan diri menenun songket. Kerajinan ini sudah mendarah daging di keluarganya.

Songket adalah kerajinan tangan khas Aceh. Kain yang dipadu dengan benang sutera tersebut punya nilai budaya tinggi di masyarakat Serambi Makkah. Terbukti dari nama, jenis, dan motif tiap songket punya makna dan filosofi tersendiri.

Contohnya, songket motif Peupula Meurante yang memiliki falsafah bagaimana masyarakat Aceh tumbuh dan saling bersatu dalam berbagai kegiatan kemasyarakatan.

Selain itu, corak yang ada di songket Aceh juga berkenaan langsung dengan tanaman atau tumbuhan yang mudah ditemukan di sana. Misalnya, corak Pucok Labu (pucuk buah labu) dan Bungong U (bunga kelapa).

Biasanya, kain songket ini digunakan saat menghadiri kegiatan-kegiatan sakral adat atau keagamaan, salah satunya resepsi pernikahan. Peminatnya tidak hanya dari Aceh, namun masyarakat luar daerah juga ikut memesannya melalui media sosial Facebook.

“Untuk yang kain sutera, kami harus pesan dulu di Bandung, baru kami buat di sini,” kata Dahlia kepada Okezone saat menyambangi rumahnya di Gampong Siem, beberapa waktu lalu.

Harganya pun bervariasi, untuk yang berbahan katun dibanderol Rp800 ribu per songket, sementara kain sutera hingga menembus angka Rp2 juta untuk setiap satu pesanan. Wajar saja, selain sulit ditenun, harga benang sutera juga melambung.

Hingga kini, kata Dahlia, meski tidak banyak pesanan, hampir setiap bulan rata-rata dua konsumen dari berbagai daerah memesan songket Aceh.

Ia mengungkapkan, bila orderan menumpuk, ibu dari enam anak ini akan meneruskannya ke beberapa perajin lain yang masih menelurkan hasil karya songket Aceh.

Dahlia menenun songket di rumahnya sendiri. Untuk sekali produksi, ia membutuhkan waktu setidaknya dua pekan, dengan syarat setiap hari ditenun hingga delapan jam per hari. Artinya, dalam sebulan Dahlia hanya menyelesaikan dua songket, itu pun bila terus-menerus memproduksinya.

“Memang membutuhkan waktu agak lama. Biasanya lamanya itu karena menentukan motif sehingga terlihat sempurna. Makanya, tidak bisa diselesaikan cepat. Apalagi kalau motif pesanan lumayan sulit,” terangnya.

(Salman Mardira)

      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Telusuri berita news lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement