Share

92 Tahun Setelah Kematian, Jasad Diktator Soviet Masih Terjaga

Rahman Asmardika, Okezone · Senin 09 Mei 2016 20:01 WIB
https: img.okezone.com content 2016 05 09 18 1383761 92-tahun-setelah-kematian-jasad-diktator-soviet-masih-terjaga-y8IEWi6xlS.jpg Jasad Vladimir Lenin di Mausoleum Kremlin. (Foto: Reuters)

MOSKOW – Jasad Diktator Uni Soviet, Vladimir Lenin, terbujur kaku di sebuah peti mati kaca sambil mengenakan setelan hitam, matanya terpejam, janggut, dan kumis merahnya terawat serta tercukur rapi. Lebih dari 90 tahun setelah kematiannya, jasad Lenin tampak terawat hidup hingga mirip dengan sebuah boneka lilin.

Namun, tubuh yang terpajang di mausoleum di Kremlin itu bukanlah sebuah patung lilin melainkan jasad asli Lenin yang diawetkan sejak meninggal pada 21 Januari 1924 hingga saat ini. Jasad itu diawasi secara teliti, dirawat, dan dibalsam secara rutin dengan dukungan infrastruktur yang dibangun khusus pada zaman Soviet sehingga para ilmuwan percaya kondisi jasad tersebut bisa bertahan sampai ratusan tahun mendatang.

Berbagai fasilitas dan biaya perawatan tersebut tentu saja menghabiskan biaya yang tidak kecil. Menurut laporan yang dilansir Moscow Times, Senin (9/5/2016), bulan lalu Dinas Penjaga Federal yang membawahi wilayah Kremlin, termasuk Mausoleum Lenin, mengumumkan tender untuk perawatan medis dan biologis jasad Lenin dengan jumlah mencapai 13 juta rubel atau sekira Rp2,6 miliar untuk 2016.

Meski publik berbeda pendapat mengenai pemakaian dana yang begitu besar, untuk saat ini tampaknya Pemerintah Rusia masih berkeinginan untuk menjaga jasad sang tokoh revolusi.

Semula tidak ada yang berencana untuk mengawetkan jasad Lenin untuk waktu yang sedemikian lama. Setelah kematiannya, Lenin diautopsi sebelum diawetkan untuk sementara waktu demi memberikan kesempatan kepada warga Soviet untuk memberikan penghormatan terakhir. 

Selama empat hari setelah kematiannya, jasad Lenin ditampilkan di dalam sebuah peti terbuka di Gedung Dom Soyuzov di tengah Kota Moskow. Tidak kurang dari 50 ribu orang dari seluruh Uni Soviet datang untuk melihat dan mengucapkan selamat tinggal pada Lenin.

Banyaknya pengunjung membuat jasad kemudian dipindahkan ke mausoleum di Lapangan Merah untuk dikunjungi para pelayat.

Ide untuk mengawetkan jasad baru muncul 56 hari kemudian setelah jasad Lenin masih dalam kondisi baik karena cuaca dingin yang menghambat pembusukan. Vladimir Vorobyov dan Boris Zbarsky dua orang ahli kimia ditunjuk untuk menjalankan prosesnya.

Sejak saat itu sekelompok ilmuwan telah ditugaskan untuk merawat jasad Lenin. Pada puncak aktivitasnya di zaman Soviet, para ilmuwan yang dijuluki dengan nama “Lenin Lab” itu terdiri dari 200 orang ahli yang bekerja dalam proyek pengawetan itu.

Dinas Penjaga Federal mengatakan mustahil untuk menghitung berapa banyak biaya yang dikeluarkan untuk merawat jasad Lenin dan mausoleum. Sampai saat ini, dana bukanlah halangan bagi upaya pemeliharaan jasad melainkan regenerasi ahli dan ilmuwan yang terlibat di dalam proyek tersebut.

Para ilmuwan yang bertugas kini semakin menua namun tidak ada ilmuwan muda yang mau menggantikan posisi mereka.

“Orang muda tidak tertarik dengan ilmu mausoleum, ilmu ini tidak prestisius lagi,” kata Profesor Antropologi Sosial dari Universitas California, Alexei Yurchak. Sedangkan solusi alternatif dengan menguburkan jasad Lenin dapat berakibat hilangnya hasil eksperimen selama lebih dari 90 tahun.

1
3

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini