DALAM berbagai pelajaran sejarah yang mengetengahkan kisah-kisah revolusi kemerdekaan Indonesia, acap kali para guru menyebutkan pasukan Belanda sebagai musuh yang teramat buruk bagi para gerilyawan Indonesia.
Siapa pasukan Belanda yang dimaksud itu? Soal ini banyak yang mengatakan bahwa pasukan Belanda, ya tentara kulit putih dari negeri asalnya di Eropa. Sebagian memang benar bahwa pasukan Belanda didatangkan dari Negeri Kincir Angin.
Namun ternyata tak kalah banyak pasukan Belanda yang berasal dari golongan inlander (pribumi) sendiri. Mereka biasanya tergabung di barisan KNIL (Koninklijke Nederlandsch-Indisch Leger).
Barisan ini sedianya punya arti Pasukan Kolonial Kerajaan Hindia-Belanda. Tapi sering ditafsirkan sebagai pasukan Belanda hitam. Alasannya karena para personelnya banyak berasal bagian timur nusantara.
Pun demikian, menurut sebuah catatan dari buku ‘KNIL dan Revolusi Indonesia’, anggota terbanyak mereka berasal dari suku Jawa dan daerah-daerah lainnya.
Bahkan tak sedikit dari mereka (mantan KNIL) yang kemudian berperan penting dalam “kelahiran dan pertumbuhan” Tentara Nasional Indonesia (TNI).
Sebut saja Oerip Soemohardjo, Tahi Bonar Simatupang, Abdoel Haris Nasution, Alexander Evert Kawilarang, Ahmad Yani, Soerjadi Soerjadarma, hingga Soeharto yang kemudian menjadi Presiden RI kedua.
Serba-serbi tentang KNIL ini terbilang cukup jarang dibahas dalam jurnal maupun buku. Namun sedikitnya semua hal tentang KNIL termaktub dalam buku ‘KNIL dan Revolusi Indonesia’ karya pemerhati sejarah, Wawan Kurniawan Joehanda.
Uniknya, buku yang baru dirilisnya ini diterbitkan secara “indie”, alias tak bernaung dengan penerbit manapun. Untuk mendapatkan buku berbanderol Rp65 ribu itu pun untuk sementara, harus langsung mengontak penulisnya di akun media sosial Facebook.
Beragam kisah tentang KNIL digambarkannya dalam buku yang membutuhkan riset selama delapan bulan tersebut, mulai dari kelahirannya, hingga para mantan KNIL yang turut berperan dalam pembentukan TNI AD, TNI AL, TNI AU dan Kepolisian Republik Indonesia (Polri).
“Selama ini menulis sendiri, mencetak sendiri dan mem-publish sendiri. Sementara saya memakai jalur indie label. Risetnya sekitar delapan bulan sejak 2015, sekaligus hasil diskusi dengan (penulis) mas Petrik (Matanasi),” ungkap Wawan kepada Okezone.
Inti yang ingin disampaikannya adalah, bahwa selama ini para mantan KNIL, baik yang bertugas di masa sebelum dan sesudah revolusi, kerap dicap pengkhianat, lantaran bersedia menjadi alat kolonial Hindia-Belanda.
Dogma itu mungkin akan terus ada, terlebih bagi mereka yang kemudian memilih kembali jadi anggota KNIL dan tak menggabungkan diri ke TNI, pasca-Jepang keluar dari Indonesia.
Namun bukan berarti mereka tak punya pembelaan. Karena seperti yang dikutip penulis dari seorang mantan KNIL yang juga salah satu tokoh besar TNI, Didi Kartasasmita, bahwa mereka (pernah) berkarier sebagai tentara Belanda demi urusan perut.
“Saya menjadi KNIL karena urusan perut. Tampaknya beberapa rekan saya pun begitu. Mereka menjadi alat pemerintah kolonial bukan karena ideologi, tapi untuk memenuhi kebutuhan hidup,”.
(Randy Wirayudha)
News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.