"Dari dulu pergantian menteri tidak berdampak langsung ke kami (buruh). Tidak pernah ada menteri yang benar-benar memperhatikan dan memperjuangkan nasib kami. Jangankan untuk asuransi kesehatan, gaji kami saja sering telat dibayar, bahkan THR pun kurang dari yang seharusnya. Bahkan kami juga bukan pegawai, kami masih kontrak dengan outsourcing. Nasib buruh tidak pernah berubah. Harusnya presiden memilih menteri yang cerdas dan punya rasa empati yang tinggi," ujar Sandy Ilyas (28) buruh pabrik asal Medan.
"Tidak semua warga kurang mampu punya kartu sehat. Saya berharap biaya berobat untuk kesehatan murah, penanganan medis juga supaya lebih baik," kata Sarmidi (66) warga Prambanan, Sleman.
"Kita di Maluku Utara, yang perlu diperhatikan dan menjadi prioritas pemerintah pusat yaitu listrik, infrastruktur perhubungan laut serta pembangunan jalan nasional yang hingga kini belum dituntaskan pemerintah." Nandar, warga Ternate.
"Kami pedagang kecil ini berharap pembangunan yang dibuat pemerintah dengan kabinet baru ini, enggak melulu yang besar-besar, tapi juga pembangunan yang benar-benar bisa kami rasakan langsung manfaatnya. Misalnya untuk harga-harga kebutuhan pokok yang selama ini tak pasti kenaikannya. Itu menyulitkan kami untuk jualan, karena kami enggak sesuka hati naik turunkan harga. Lalu juga kami maunya ada perbaikan di sisi (penegakkan) hukum, khususnya untuk aksi premanisme yang menghisap darah kami setiap harinya," ujar Ana (50), penjual sarapan pagi di Medan.
"Presiden hendaknya membantu membangun akses transportasi darat di Mentawai yang merupakan pulau terluar, kalau memang pemerintah daerah tidak sanggup. Biar kami tidak lewat laut kalau ke ladang," Petrus Saruruk (53), petani kopra di Desa Muntei, Kecamatan Siberut Selatan, Kabupaten Kepulauan Mentawai.
"Presiden hendaknya menaikkan harga sayur di tingkat petani, jangan murah terus, kapan kami bisa sejahtera. Mulai Presiden Soeharto sampai pak Jokowi, harganya Rp1.000 saja terus. Saya ingin petani sejahtera," ujar Ismarniati (58) petani kangkung Kecamatan Paun, Kota Padang.
"Dari dulu harga kebutuhan terus saja naik. Apa-apa mahal. Sementara pendapatan tidak pernah bertambah. Contoh sejak puasa hingga sekarang harga ayam potong mahal. Biasanya harga normal 1 kilogram Rp14.000 kini harga masih Rp35.000 begitu juga dengan harga sembako lainnya yang terus naik. Kita tidak perlu banyak janji, kita minta Jokowi dan menterinya bisa mengontrol harga saja." Suyati (50), pedagang jamu keliling di Pekanbaru.
(Risna Nur Rahayu)