SERANG - Pencak silat dan debus adalah budaya leluhur Banten yang kini tak banyak dilirik oleh masyarakat luas. Budaya itu padahal lahir sejak ratusan tahun silam.
Dulu, pencak silat dijadikan ilmu wajib untuk melawan para penjajah. Begitu pula dengan debus yang memiliki unsur magis hingga irisan golok maupun tusukan paku tidak melukai sedikit pun tubuh para pemain debus.
Keduanya kini dijadikan bagian dari seni bela diri khususnya pencak silat yang setiap daerah memiliki penamaan masing-masing.
Menjelang perayaan HUT RI ke-71 tahun, festival pencak silat digelar di Komando Distrik Militer (Kodim) 0602/Serang. Digelarnya festival budaya lokal tersebut guna mempopulerkan kembali kearifan lokal yang kian tahun kian redup tergerus oleh zaman.
"Pencak silat ini kan kekayaan kita, warisan budaya, jangan sampai nanti terputus dan jangan sampai anak cucu kita tidak tahu budaya-budaya begini," kata Komandan Kodim 0602 Serang, Kolonel Inf Oky Andriyansyah Adiwirya.
Menurutnya, masyarakat tidak lantas alergi dengan budaya luar yang masuk. Akan tetapi masyarakat harus mampu beradaptasi karena budaya warisan leluhur itu memiliki banyak filosofi seperti "lembut bukan bebarti lemah".
"Kalau kita lihat dari gerakan-gerakannya ada kelembutan di situ, ada keluwesan, dan ada kekuatan juga. Nah kita harus paham dengan filosofi itu," imbuhnya.
Kegiatan yang dibuka untuk masyarakat umum itu, lanjutnya, merupakan langkah awal untuk mempopulerkan seni budaya tersebut. Hal itu akan dijadikan event tahunan untuk menjaga tradisi yang ada.
Banten yang kental dengan pencak silat dan debus harus menjadi garda terdepan untuk mempopulerkan kembali warisan leluhur yang kian redup. Jangan sampai, warisan yang justru terdapat banyak makna dan filosofi yang terkandung di dalamnya hilang terbawa arus globalisasi.
(Risna Nur Rahayu)
News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.