Sering kali ia singgah di Pongkalan Buun (Pongkalan=tempat singgah), sementara Buun adalah nama orang dari suku Dayak, rumah milik Buun yang berada di muara sungai inilah yang sering disinggahi Sultan Imanudin.
Seiring berjalannya waktu dari bulan ke tahun mengingat Sultan sering melakukan perjalanan, maka Sultan mempunyai keinginan untuk membuat kampung.
"Sultan sering hilir mudik, karena jauh muncul keinginan untuk membuat kampung. Dari situ lah sejarah nama Pangkalan Bun, Kotawaringin Barat," ujar Alidin.
Sejarah lainnya, tiang Sangga Benua yang ditancapkan oleh Sultan Kutaringin IX Pangeran Ratu Imanuddin sebagai simbol dipindahkannya ibu kota Kesultanan Kutaringin dari Kotawaringin Lama (Kolam) ke Pangkalan Bun pada 1811, akhirnya berkalang tanah setelah berdiri menjulang 204 tahun lamanya.