BOVEN Digul di Papua pada masa kolonial Hindia Belanda, merupakan tempat terpencil di pedalaman sebagai tempat penahanan dan pengasingan tokoh-tokoh politik musuh pemerintah Hindia Belanda. Mulai dari tokoh-tokoh pemberontakan Partai Komunis Indonesia (PKI) 1926, maupun para tokoh pergerakan nasional.
Di antara sekira 1.308 tahanan politik (tapol) yang pernah “dibuang” ke sana adalah Mohammad Hatta, Sutan Sjahrir, Sayuti Melik, serta Mohamad Bondan. Karena situasinya yang sangat terpencil, Tanah Merah di Boven Digul seolah jadi “neraka” untuk menggerus mental Hatta-Sjahrir Cs.
Sayangnya upaya pemerintah Belanda merusak mental sosok-sosok yang kelak jadi pendiri bangsa itu terbilang gagal. Hatta-Sjahrir Cs justru berusaha menjadikan masa pengasingan mereka di “neraka” Boven Digul, bak “surga” alternatif.
Mereka berusaha tetap menjaga kewarasan dengan berbagai hal-hal sepele yang ternyata, jadi hiburan tersendiri. Seperti permainan tebak-tebakan. Ya, ternyata permainan asah otak ini tidak hanya dilakukan anak-anak masa kini, tapi juga sudah jadi selingan hiburan para tokoh bangsa kita.
Main Tebak-tebakan Menjaga Kewarasan