Jawaban itu sempat dikritik Suka Sumitro yang menganggap Bondan masih merasa lebih menyukai Belanda. “Eh, jangan lupa kalau penjara (di Kapal KPM) ini masih milik Belanda dan bahasa Belanda masih laku di sini,” tutur Bondan yang kembali mengundang tawa.
Friendly Match Sepakbola Antara Tapol
Selain tebak-tebakan, bermain sepakbola juga jadi hiburan menyenangkan lainnya di masa pengasingan. Ketika sudah tiba di Tanah Merah, Boven Digul pada 22 Februari 1935, para tapol sering memainkan si kulit bundar di tanah lapang, termasuk Hatta dan Sjahrir. Biasanya, sepakbola juga dijadikan ajang perkenalan tapol lama dan baru.
“Kami dari PNI (Partai Nasional Indonesia) ada tujuh orang, ditambah teman-teman dari Partindo (Partai Indonesia) dan PSII (Partai Syarikat Islam Indonesia).
Posisi di depan kiper Murwoto, ada dua bek, yakni Bung Hatta dan Burhanuddin. Sementara Sjahrir penyerang tengah” kenang Bondan dalam memoarnya itu yang memaparkan bahwa dalam laga itu mereka kalah 1-3.
(Randy Wirayudha)
News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.