MOJOKERTO - Ratusan remaja dan anak-anak dari berbagai wilayah memadati Pendopo Agung Trowulan, Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur, Sabtu (08/10/2016). Duduk berderet, mereka tampak serius menunggu giliran prosesi pembasuhan.
Baju ala pabrikan yang dikenakannya, mulai ditanggalkan dan berganti kain kafan putih yang telah disiapkan. Satu persatu, warga yang mengikuti ritual buang sial ini mulai dibasuh. Air yang di tempatkan dalam gentong tanah liat itu, disiramkan dari ujung kepala hingga ujung kaki. Sebagian rambut mereka juga dicukur untuk dibuang.
Bersamaan dengan itu, lantunan doa tak henti diucapkan sang empunya, dalam bahasa jawa. Berharap, air tujuh petirtaan di wilayah utama kerajaan Majapahit yang membahasahi tubuh mereka, bisa membuang sial dan menjauhkan para warga dari marabahaya.
Ki Suwoto Kondo Buwono mengatakan, kegiatan ini merupakan ruat Sukerta Majapahit. Dimana ruwatan ini merupakan salah satu adat jawa yang dilakukan pada bulan Suro. Tujuannya tak lain, agar kesialan tidak mengikuti para remaja dan anak-anak ini.
"Ruwatan ini tidak ada hubungannya dengan agama dan sebatas adat orang jawa. Penggunaan kain kafan ini dengan tujuan untuk menetralkan. Kain kafan itu nanti akan dilarung, karena dianggap menggandung sial atau apes," ungkapnya kepada Okezone, Sabtu (08/10/2016).
Tradisi ruwatan yang dilakukan di Pendopo Agung Trowulan ini sudah berlangsung sejak lama. Air yang digunakan untuk membasuh para remaja ini juga berasal dari tujuh petirtaan di Kecamatan Trowulan yang merupakan kawasan utama kerajaan Majapahit.
"Airnya dari pertirtaan Siti Inggil Petilasan Raden Wijaya, pertirtaan Prabu Hayam Wuruk. Kemudian dari pertirtaan Tribuana Tunggal Dewi, pertirtaan Sumur Sakti Maha Patih Gajahmada, pertirtaan Sumur Upas,pertirtaan Sumber Towo dan pertirtaan Putri Cempo," imbuhnya.
Menurut Ki Suwoto ada 60 jenis kelahiran yang harus diruwat. Diantaranya, ontang-anting (satu laki-laki atau satu perempuan), gentono-gentini (dua anak laki-laki dan perempuan), sendang keapit pancuran (tiga anak, laki-laki-perempuan-laki-laki), pancuran kaapit sendang (anak tiga, perempuan-laki-laki-perempuan) dan lain sebagainya.
"Terakhir untuk sempurnanya ruwat, kita gelar wayang kulit dengan lakon Purwakala. Purwa berarti asal atau permulaan, Kala berarti bencana. Jadi asal mula dari bencana sehingga diharapkan agar anak cucu yang dianggap apes karena lahirnya agar tidak sial atau selamat," terangnya.
Davitri (35), warga asal Kecamatan Tanggulangin, Kabupaten Sidoarjo ini sengaja datang ke Pendopo Agung Trowulan untuk mengikuti ruwatan. Ia mengaku memiliki susunan anak yang masuk dalam 60 jenis kelahiran versi adat jawa yang masuk kategori perlu dilakukan ruwatan.
"Saya punya anak tiga, pertama perempuan kemudian laki-laki dan perempuan lagi. Katanya itu masuk kategori pancuran kapit sendang sehingga harus diruwat," kata Davitri sembari mengikuti prosesi pembasuhan yang dilakukan ki dalang Suwoto kepada ketiga anaknya.
Ia menuturkan, ketiga anaknya yang mengikuti prosesi ruwatan ini adalah, Nur Fadila Aini Putri Utama (9), Arya Jaka Kuncara Putra Utama (7) dan Gendis Hening Fajariyah Putri Utama (3). Ia berharap, kesialan yang mengikuti ketiga anaknya itu hilang pasca dilakukan ruwatan ini.
"Karena saya orang jawa sehingga saya percaya dengan ruwatan ini, agar anak-anak saya tidak sial, selamat, sehat dan tidak ada halangan apa-apa. Selain itu, ruwatan ini juga untuk melestarikan tradisi yang dilakukan para nenek moyang kita," imbuh Davitri.
(Ulung Tranggana)
News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.