Advertisement
Advertisement
Advertisement
INFOGRAFIS INDEKS
Advertisement

Ali Imron: Saya Sudah Radikal Sejak Kelas 5 SD

Dara Purnama , Jurnalis-Selasa, 11 Oktober 2016 |18:31 WIB
  Ali Imron: Saya Sudah Radikal Sejak Kelas 5 SD
Ali Imron (foto: Okezone)
A
A
A

JAKARTA - Terpidana seumur hidup kasus terorime, Ali Imron alias Alik mengaku sudah memiliki pemikiran radikalisme sejak duduk di bangku kelas 5 Sekolah Dasar (SD).

Pria yang tergabung dalam aksi bom Bali 2002 ini terkontaminasi paham teroris dari kakak kandungnya almarhum Ali Ghufrom alis Mukhlas yang didakwa dengan hukuman mati.

"Saya punya pemikiran radikalisme sejak kelas 5 SD. Saya dapatkan dari kakak saya Mukhlas almarhum. Begitu pulang dari pesantren saya kelas 5 SD sudah diajari bahwa NKRI berdasarkan pancasila dan UUD 1945 itu adalah tidak benar," kisah Alik dalam diskusi bertajuk "Deradikalisasi, Kewaspadaan Nasional dan Peran Serta Pemerintah" di Kompleks STIK-PTIK, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Selasa (11/10/2016).

Menurutnya kala itu, rakyat Indonesia yang menjadikan Pancasila sebagai dasar negara dan UUD 1945 sebagai sumber hukum tertinggi di tanah air dianggap kafir. Pasalnya terang Ali Imron kala itu dia diajarkan oleh kakaknya agar menegakkan syariat Islam seutuhnya di NKRI.

"Itu kafir, yang duduk di pemerintahan dan muslim statusnya thogut. Yang non muslim statusnya kafir. Itu sejak kelas 5 SD makanya saya sampai bentrok dengan bapak saya. Bapak saya almarhum itu dulu memasang burung garuda ada presiden dan wakil presiden saya turunkan itu waktu saya kelas 5 SD," kisahnya.

Oleh karena itu, terang dia, yang paling penting dalam penanggulangan dan pencegahan terorisme, semua pihak harus mengerti apa latar belakang seseorang atau kelompok menjadi pelaku teroris. Saat ini, Ali Imron sendiri sudah bertaubat menjadi teroris.

"Latar belakang kami dulu sebagai pelaku pengeboman di Bali ada dua. Kami ingin menegakkan negara berdasarkan Islam 100 persen. Yang kedua kami ingin merealisasikan jihad dalam arti perang. Makanya latar belakang teroris sampai sekarang ini menginginkan negara berdasarkan Islam itulah teroris di Indonesia," ulasnya.

Alik menambahkan, tidak pas Jika mau menanggulangi dan mencegah paham radikalisme yang mengarah pada aksi terorisme tanpa tahu latar belakangnya.

"Kita semua jangan kecil hati, kenapa? deradikalisasi program sudah dibuat, hukum sudah di buat kok masih seperti ini. Kalau hanya aksi kecil-kecil itu ya kecil. Yang paling besar baru bom Bali. Kita harus bersyukur Indonesia tidak bisa diobok-obok oleh teroris," tukasnya.

(Awaludin)

News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.

      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Telusuri berita news lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement