Image

Raden Angga Wacana dan Legenda Janur Kuning

Syamsul Maarif, Jurnalis · Jum'at, 14 Oktober 2016 - 11:09 WIB
Janur kuning menghiasai Jalan Malioboro, Yogyakarta (Prabowo/Okezone) Janur kuning menghiasai Jalan Malioboro, Yogyakarta (Prabowo/Okezone)

PANGANDARAN – Raden Angga Wacana merupakan salah satu tokoh penyebar Islam yang berada di wilayah Sukapura, tepatnya di Kecamatan Cimerak, Kabupaten Pangandaran (sekarang), Jawa Barat, pada masa pergeseran Hindu Buddha ke Islam.

Sejarah tersebut memang tidak diabadikan dalam buku kurikulum atau ditulis dalam sebuah buku muatan lokal. Sejarah tersebut hanya dituangkan dalam sebuah buku Babad Cijulang yang merupakan buku kumpulan sejarah dan sebagai rencana umum tata ruangnya (RUTR) para karuhun orang Cijulang.

Dalam buku Babad Cijulang diterangkan nama Raden Angga Wacana pada waktu kecil bernama Naga Wacana, seiring dengan usianya yang terus bertambah dan ilmu agamanya semakin fasih, akhirnya dijuluki nama oleh santrinya Raden Angga Wacana.

Salah satu tokoh supranatural asal Cijulang Tatang mengatakan, suatu hari Raden Angga Wacana mendapat kabar bahwa di Kerajaan Cirebon ada sayembara para jawara se-Nusa dan Jawa.

Pemenang sayembara tersebut oleh Raja Cirebon akan diuji meratakan Gunung Hata dan siapa saja yang berhasil meratakannya akan diberi hadiah salah satu putri Raja Cirebon untuk dinikahi.

“Rencana Raja Cirebon meratakan Gunung Hata bertujuan untuk mendirikan sebuah masjid agar penyebaran agama Islam bisa maksimal,” kata Tatang.

Menurutnya, Raden Angga Wacana akhirnya berpamitan ke istrinya hendak mengikuti sayembara tersebut. Istrinya pun mengizinkannya dan kepergian Raden Angga Wacana hanya dibekali satu nasi bungkus atau nasi timbel nasi untuk menuju lokasi sayembara.

“Setelah sampai di lokasi sayembara, Raden Angga Wacana tidak masuk arena, namun dia merangkai sisa serpihan kayu tatal untuk dijadikan pondasi dan rangka bangunan masjid di luar arena saymbara,” tambah Tatang.

Dengan ilmu yang dimiliki Raden Angga Wacana, akhirnya berhasil membuat pondasi dan rangka bangunan masjid dalam hitungan jam. Setelah rangka dan pondasi selesai dibuat akhirnya Raden Angga Wacana mulai meratakan Gunung Hata dan mulai meletakan rangka dengan pondasinya.

“Tidak lama setelah Gunung Hata rata dan telah disimpan rangka bangunan akhirnya Raja Cirebon kaget dan memberhentikan pertarungan yang diikuti para jawara,” jelasnya.

Raja Cirebon kemudian bertanya kepada seluruh peserta yang hadir dan mengikuti sayembara itu, para jawara dari berbagai daerah akhirnya mengaku kalau rangka bangunan dan Gunung Hata rata oleh para peserta sayembara.

“Karena seluruh peserta saling mengklaim dan semua merasa ingin menjadi pemenang akhirnya Raja Cirebon memutuskan untuk mengambil inisiatif lain dengan cara membuat burung dari janur kuning,” paparnya.

Setelah janur kuning tersebut berhasil menjadi burung, oleh Raja Cirebon akhirnya diterbangkan. Burung itu akhirnya singgah di Raden Angga Wacana, Raja Cirebon pun kemudian berkata kalau pondasi dan rangka bangunan masjid dan Gunung Hata rata merupakan pekerjaan Raden Angga Wacana.

“Raja Cirebon berkata, Raden Angga Wacana, karena engkau berhasil meratakan Gunung Hata dan telah menyiapkan rangka bangunan masjid beserta pondasinya, maka engkau berhak untuk menikahi putri kami,” tambah Tatang.

Karena Raden Angga Wacana telah mempunyai isteri, akhirnya Raden Angga Wacana tidak mau menikahi putri Raja Cirebon dan memilih pulang ke Sukapura, tetapi Raja Cirebon akhirnya mengutus prajurit untuk menyusul Raden Angga Wacana dan harus dinikahkan dengan putrinya.

Setelah prajurit Kerajaan Cirebon berhasil menemukan Raden Angga Wacana, kemudian membujuk Raden Angga Wacana untuk menikahi putri Raja Cirebon, tapi Raden Angga Wacana tidak mau menikahinya dan terjadilah perkelahian.

Dalam perkelahian tersebut, seluruh prajurit Raja Cirebon kalah lantaran setiap prajurit yang menyerang Raden Angga Wacana mematung menjadi batu sesuai posisinya masing-masing. Namun hanya satu orang yang tidak bisa dikalahkan yaitu kakak laki-laki putri Raja Cirebon bernama Sembah Langkung.

“Sembah Langkung akhirnya berhasil membujuk Raden Angga Wacana agar mau menikahi adiknya dan Raden Angga Wacana pun meminta syarat sebagai simbol pernikahannya disaksikan oleh riasan janur kuning,” tegas Tatang.

Setelah Sembah Langkung berhasil menikahkan adiknya ke Raden Angga Wacana, akhirnya seluruh peralatan yang dibawa oleh prajurit Kerajaan Cirebon dikumpulkan dan disimpan disebuah tempat yang kemudian tempat tersebut menjadi batu.

“Hingga saat ini, riasan janur kuning menjadi budaya dan tradisi dalam setiap hajatan terutama hajatan pernikahan,” pungkas Tatang

(sal)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini

Live Streaming