JAUH sebelum pembubaran Uni Soviet terjadi pada akhir 1991, Hungaria telah memulai upaya separatisnya. Paham komunisme yang dibangun Lenin sejak 1917, lama kelamaan dirasa tak lagi cocok dengan perkembangan sosial, budaya dan politik di Budapest. Rakyat Hungaria pada 1956, lebih tertarik dengan paham liberalisme.
Pada 23 Oktober 1956, demonstrasi menuntut dikembalikannya jabatan Imre Nagy sebagai perdana menteri dimulai. Rakyat menyukainya tak lain karena kebijakan liberalnya.
Foto: Imre Nagy (Gimagine)
Arak-arakan pengunjuk rasa yang diorganisasikan oleh mahasiswa itu awalnya berlangsung damai. Mereka melakukan pawai panjang dari pusat kota Budapest menuju Gedung Parlemen Hungaria. Selain menginginkan Nagy, massa juga menuntut pemilihan umum yang bersih, kebebasan pers, dan pengusiran tentara Soviet dari negara itu.
Dilansir dari Visit Budapest, Minggu (23/10/2016), demonstrasi ini menarik minat banyak orang. Semakin lama, massa yang menyuarakan pendapatnya semakin membludak. Jumlahnya tercatat mencapai puluhan ribu orang.
Sementara kebanyakan massa mengumandangkan tuntutannya bermodalkan alat pengeras suara di atas mobil, seorang perwakilan mahasiswa berusaha masuk ke dalam stasiun radio untuk menyiarkan kampanye secara lebih meluas.
Polisi pun tidak membiarkan hal itu terjadi dan menangkapnya. Mendengar utusan mereka ditahan, massa menuntut temannya dibebaskan. Akan tetapi, otoritas keamanan nasional Hungaria (AVH) malah menembaki para demonstran dari atas gedung stasiun radio tersebut.
Seorang mahasiswa tewas dan dibungkus dengan bendera. Jasadnya lalu ditandu ke atas kerumunan. Pada titik ini, demonstrasi tak lagi berjalan damai, pemberontakan besar-besaran dilakukan. Massa yang marah menyerukan “Revolusi, Kemerdekaan atas Uni Soviet!”