Kisah ABK Indonesia Selamat dari Sekapan Perompak Somalia

Dwi Ayu Artantiani , Okezone · Rabu 09 November 2016 07:40 WIB
https: img.okezone.com content 2016 11 08 525 1536183 kisah-abk-indonesia-selamat-dari-sekapan-perompak-somalia-FalAUUd3AA.jpg Supardi, ABK Indonesia yang selamat usai 4,7 tahun disandera perompak Somalia (Dwi Ayu/Okezone)

CIREBON – Wajah Supardi (34) kusut. Warga Blok Karangjati, Desa Kalisapu, Kecamatan Gunungjati, Kabupaten Cirebon, Jawa Barat itu, trauma mengingat aksi perompakan kapal tanker FV Naham 3 yang menimpanya pada 26 Maret 2012.

Bersama 28 anak buah kapal (ABK) lainnya, Supardi saat itu berlayar di laut lepas. Namun, pada tengah malam kapal mereka dibajak para perompak Somalia. Mereka kemudian disandera selama 4,7 tahun dan baru dibebaskan pada Oktober 2016.

Beberapa orang tewas dalam penyanderaan itu. Supardi selamat, namun ia masih sedih karena sahabatnya merenggang nyawa ditangan perompak.

Supardi pun berkisah sesaat sebelum perompakan terjadi, ia dan 28 ABK lainnya dari Indonesia, China, Filipina, Kamboja, Vietnam, dan Taiwan, hendak beristirahat karena jam sudah menunjuk pukul 02.00.

Tiba-tiba datang sekelompok perompak bersenjata api dan menebak ke arah kapal mereka. Kapten kapal tewas diterjang peluru.

"Saya tidak tahu pasti tiba-tiba datanglah pembajak itu yang langsung menyerang kami. Mereka meletuskan tembakan dengan membabi buta, nahasnya kapten kapal kami Cung Hui To asal Taiwan tertembak dan tewas," kata Supardi beberapa waktu lalu.

Melihat kapten kapal tertembak, seluruh ABK ketakutan. Apalagi para perompak sudah berhasil menguasai kapal. Tak ada yang bisa diminta tolong, karena posisi kapal saat itu sedang di laut lepas. Para ABK lalu dibawa ke bibir pantai Somalia dan diperiksa perompak.

"Yang ada di Kapal FV Naham 3 sebanyak 29 orang dari enam negara, di antaranya tiga orang dari Vietnam, lima orang dari Filipina, 10 orang dari China, empat orang dari Kamboja, lima orang dari Indonesia, dan dua orang dari Taiwan," paparnya.

Warga Taiwan usai disanera perompak Somalia (foto EPA)

Ke 28 ABK tersebut kemudian disandera, bertahan hidup di atas kapal selama 1,5 tahun. Untungnya kapal yang mereka tumpangi baru saja mendapatkan suplay logistik untuk jangka waktu setahun.

(Baca juga: Selama Disandera Perompak Somalia, WN Taiwan Terpaksa Makan Kalajengking)

"Para perompak itu berjumlah 28 orang, mereka menahan kami untuk meminta tebusan kepada perusahaan kami sebesar 20 dolar Amerika dan semua barang-barang kami dibuang," kata dia.

Setahun lebih tidak ada kejelasan kapan para ABK itu bisa pulang ke Tanah Air mereka. Suatu ketika, kapal yang ditumpanginya itu terseret ombak dan terdampar, para ABK kemudian dibawa ke suatu tempat layaknya hutan belantara. Jaraknya empat hingga lima jam dari pantai Somalia.

"Di hutan itu kami hampir menghabiskan waktu sekira empat tahun tujuh bulan,” ujar Supardi.

Saat itulah penderitaannya makin berlipat. Mereka hanya diberikan makanan berupa tepung terigu yang sudah dicampur air pada sore harinya dan baru dimasak dan dimakan pada pagi besoknya.

“Kami harus makan, kondisi tepung itu sudah busuk, bau apek dan banyak ulatnya, lalu untuk sore harinya kami diberikan nasi dan kacang merah, sehari kami diberikan makan dua kali," tuturnya.

 Saat kehausan mereka juga sulit mendapatkan air bersih. Mereka terpaksa minum air yang kerap bercampur dengan kotoran hewan.

"Di Somalia sangat panas sekali, hujan turun itu hanya sekali dalam setahun, itu pun hanya beberapa jam saja. Mau tidak mau kami harus meminum itu, kami hanya mengandalkan air hujan ketika turun untuk ditampung dan dimanfaatkan untuk MCK," ucapnya.

Para perompak itu tak peduli dengan penderitaan Supardi dan kawan-kawan. Gerombolan itu hanya menunggu uang tebusan dari majikan masing-masing sandera.

Selama empat tahun tujuh bulan disandera perompak Somalia, tiga di antara ABK itu meninggal dunia karena sakit dan tertembak.

(Baca juga: ABK Indonesia Sandera Perompak Somalia Meninggal karena DBD)

"Dari Cirebon ada tiga orang, akan tetapi satu dari dua orang yaitu Abdul Jahlan ketika masuk tiga bulan sebelum terjadi perompakan meminta pulang dan akhirnya dipulangkan, sedangkan teman saya yang satu lagi yaitu Nasirin meninggal pada 2014 lalu karena sakit," ungkapnya.

Selama dalam penyanderaan, Supardi mengaku, hanya mengandalkan komunikasi satu orang. Pasalnya, beberapa keluarga ABK lainnya tidak bisa dihubungi. Para perompak tak mengizinkan sanderanya berkomunikasi langsung dengan pemerintah.

"Kami hanya diperbolehkan menghubungi keluarga kami yang tujuannya agar keluarga kami mendesak pemerintah untuk membebaskan kami dengan membayar uang tebusan," terangnya.

WNI yang sempat disandera perompak Somalia (foto EPA)

Supardi saat itu pasrah dan berpikir tidak akan pernah bisa kembali lagi ke kampung halamannya. Ia sudah merelakan sisa hidupnya di tangan perompak karena baik perusahaan maupun pemerintah belum memberi tanda-tanda membebaskan mereka.

"Kami tidak tahu prosesnya seperti apa, yang kami tahu saat itu para perompak menunjukan kertas persetujuan yang menyatakan kami dibebaskan. Saat itu juga kami diserahkan kepada pihak kepolisian di sana dengan kawalan para perompak itu," sambungnya.

(Baca juga: Perompak Somalia Bebaskan 26 Sandera, Termasuk WNI)

Legalah Supardi setelah terbebas dari sandera bersama ABK lainnya, mereka kemudian diamankan polisi dan diinapkan dua hari di hotel. Somalia adalah negara bergejolak, jadi saat berada di hotel, mereka pun bisa menyaksikan langsung peperangan yang terjadi di sana.

"Tanggal 30 Oktober 2016 kami dipulangkan ke Tanah Air dan 31 Oktober kami sampai ke kampung halaman kami. Selain diantar sampai rumah, kami juga dibekali sejumlah vitamin dan obat yang harus kami minum untuk memulihkan kondisi tubuh kami," paparnya.

Supardi pun senang karena bisa kembali berkumpul dengan keluarganya, meski masih trauma dengan pengalaman pahit di Somalia.

"Saya dari usia 18 tahun menjadi nelayan yang sebelumnya bekerja di pabrik roti. Sudah bertahun- tahun berlayar baru kali itu mendapatkan pengalaman pahit, setelah kondisi saya pulih, saya akan kembali berlayar karena jiwa saya sudah menjadi nelayan," pungkasnya.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini