Angka Kematian Ibu Melahirkan di Pangandaran Meningkat

Agregasi Sindonews.com, · Rabu 14 Desember 2016 14:19 WIB
https: img.okezone.com content 2016 12 14 525 1566365 angka-kematian-ibu-melahirkan-di-pangandaran-meningkat-6eLa84LkL9.jpg

PANGANDARAN - Jumlah Angka Kematian Ibu (AKI) saat melahirkan di Pangandaran, Jawa Barat meningkat. Berdasarkan data yang diperoleh dari Dinas Kesehatan Kabupaten Pangandaran, tahun 2015 angka kematian ibu melahirkan sebanyak 3 orang, sedangkan pada tahun 2016 mencapai delapan orang.

Kepala Bidang Bina Kesehatan Masyarakat (Kabid Binkesmas) Dinas Kesehatan Kabupaten Pangandaran Yadi mengatakan, rata-rata kasus kematian pada ibu melahirkan disebabkan hipertensi pada kehamilan dan penyakit jantung, selain itu juga disebabkan shock, pendarahan dan serangan DBD.

"Kasus kematian ibu di tahun 2015 terjadi di Kecamatan Cijulang satu orang, Kecamatan Kalipucang satu orang dan Kecamatan Cigugur satu orang," kata Yadi.

Iamenambahkan, di tahun 2016 di Kecamatan Parigi tiga orang, Kecamatan Cimerak satu orang, Kecamatan Pangandaran dua orang dan Kecamatan Sidamulih dua orang.

"Dari kasus kematian ibu yang terjadi diantaranya ibu nipas sebanyak empat orang, saat bersalin tiga orang dan saat hamil satu orang," tambahnya.

Untuk mengantisipasi kasus tersebut pihak Dinas Kesehatan telah melaksanakan peningkatan kompetensi bidan dalam penanganan gawat darurat dan melakukan riview maternal parimental.

"Jumlah bidan yang ada di Kabupaten Pangandaran 138 orang, di antaranya 43 bidan desa pegawai tidak tetap (PTT), 34 bidan desa berstatus PNS, 48 bidan puskesmas dan 13 bidan PTT Poned," papar Yadi.

Sementara Kepala Seksi Kesehatan Keluarga (Kasi Kesga) Dinas Kesehatan Kabupaten Pangandaran Yati mengatakan, untuk angka kematian bayi (AKB) di Kabupaten Pangandaran mengalami penurunan.

"Tahun 2015 angka kematian bayi sebanyak 60 bayi, sedangkan tahun 2016 sebanyak 51 bayi," kata Yati.

Penyebab kematian bayi tersebut disebabkan bayi lahir dengan berat badan rendah, selain itu juga banyak kasus yang terjadi karena aspixsia atau susah bernafas Selain dua faktor tersebut, kasus kematian bayi juga banyak terjadi lantaran proses persalinan yang lama.

"Idealnya, proses persalinan untuk melakukan antisipasi rawan kematian ibu dan bayi dilakukan dalam kurun waktu 30 menit hingga proses melahirkan," imbuh dia.

Lebih lanjut Yati menjelaskan, kasus kematian ibu dan bayi yang lambat penanganan lantaran harus dirujuk ke RSUD Kota Banjar atau RSUD Kabupaten Ciamis atau ke klinik bersalin.

"Perjalanan dari Kabupaten Pangandaran menuju Kota Banjar atau Kabupaten Ciamis memerlukan waktu dua hingga tiga jam, sedangkan ideal penanganan dalam kurun waktu 30 menit," jelas Yati.

Dengan lamanya perjalanan dari Kabupaten Pangandaran ke Kota Banjar atau Kabupaten Ciamis maka akan berpotensi pada rawannya terjadi kematian ibu dan bayi.

"Tahun 2017 semoga sarana dan fasilitas di RSUD Kabupaten Pangandaran sudah memadai, sehingga angka kematian ibu dan bayi dapat terminimalisasi," pungkasnya.

(put)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini