nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

HISTORIPEDIA: Kejar Diktator Sekaligus Agen Ganda, AS Invasi Panama

Wikanto Arungbudoyo, Jurnalis · Selasa 20 Desember 2016 08:05 WIB
https: img-z.okeinfo.net content 2016 12 20 18 1570901 historipedia-kejar-diktator-sekaligus-agen-ganda-as-invasi-panama-vVERUZLHjE.jpg AS memulai invasi ke Panama untuk mengejar diktator Manuel Noriega (Foto: Military Wikia)

AMERIKA Serikat (AS) selalu menganggap dirinya sebagai polisi dunia alias penjaga keamanan dan perdamaian di jagat raya. Salah bukti terpampang jelas pada 20 Desember 1989 kala Negeri Paman Sam menginvasi Panama untuk menjungkalkan pemimpin militer bernama Manuel Noriega.

Invasi tersebut bukan tanpa alasan. Sebab, Noriega telah terbukti terlibat dalam tindak kriminal perdagangan narkoba di AS. Ia juga dituduh berlaku bak diktator dengan memberangus demokrasi di Panama serta membahayakan diaspora AS.

Sebagai figur yang tengah naik daun di militer Panama, Manuel Noriega direkrut oleh Badan Intelijen AS, CIA, untuk menangkal penyebaran komunisme di Amerika Tengah pada 1970. Sayangnya, Noriega terlibat perdagangan narkoba dan diberhentikan dari CIA pada 1977. Naiknya pemerintahan beraliran Marxisme membuat CIA tidak punya pilihan selain merekrut kembali Noriega pada 1979.

Manuel Noriega mendukung semua langkah AS di Amerika Tengah sehingga mendapat pujian dari Gedung Putih. Namun, Senat AS menyimpulkan bahwa Panama adalah pusat dari perdagangan narkoba pada 1983. Setahun kemudian, Noriega mengacaukan pemilihan presiden demi memenangkan Nicolas Ardito Barletta yang dianggap sebagai boneka. Noriega masih tetap mendapat dukungan dari pemerintah AS karena dianggap berjasa mendongkel pemerintah Panama yang sebelumnya beraliran Marxisme.

Keadaan mulai berubah pada 1986. Dugaan keterlibatan Noriega dalam perdagangan narkoba dan pencucian uang mulai menguat. Apalagi, muncul laporan Noriega adalah seorang agen ganda bagi CIA dan agen mata-mata Kuba. Pemerintah AS kemudian memecatnya. Kejaksaan Federal di Tampa dan Miami memvonis Noriega bersalah atas tindakan penyelundupan narkoba dan pencucian uang pada 1988. 

Ketegangan antara AS dan Terusan Panama meningkat. Manuel Noriega kembali mengacaukan pemilihan umum yang sudah memenangkan Guillermo Endara sebagai presiden. George Bush –Presiden AS saat itu- memerintahkan penyebaran pasukan tambahan ke Selat Panama. Pada 16 Desember 1989, seorang marinir AS tewas ditembak oleh Pasukan Pertahanan Panama (PDF) yang didirikan Manuel Noriega.

Presiden George Bush kemudian menerbitkan perintah Invasi Panama pada 17 Desember 1989 untuk mendongkel Noriega sebagai pimpinan militer. Sebanyak 9.000 orang tambahan pasukan AS bergabung dengan 12.000 personel yang telah lebih dahulu berada di Panama pada 20 Desember 1989. PDF di bawah komando Manuel Noriega tentu saja melakukan perlawanan ketat.

Pasukan AS berhasil menghancurkan PDF pada 24 Desember 1989 dan menguasai hampir seluruh Panama. Guillermo Endara kemudian dinobatkan sebagai Presiden Panama oleh pasukan AS. Ia menerbitkan surat perintah untuk membubarkan PDF. Badan Pengawasan Obat-Obatan dan Makanan (DEA) AS berhasil menangkap Noriega pada 3 Januari 1990 di Kedutaan Besar (Kedubes) Vatikan di Panama. Noriega sebelumnya berhasil memperoleh suaka politik untuk berlindung di balik tembok Kedubes Vatikan.

Sebanyak 23 orang tentara dan tiga orang warga sipil tewas dalam invasi tersebut. Sementara korban tewas di pihak PDF mencapai 150 orang. Sekira 500 orang warga sipil Panama turut meregang nyawa. Noriega kemudian terbukti bersalah dengan tindak perdagangan narkoba tingkat delapan, pemerasan, dan pencucian uang. Ia dijatuhi hukuman 40 tahun penjara. Noriega menjadi pemimpin negara pertama yang didakwa melakukan tindakan kriminal oleh Pengadilan AS sepanjang sejarah.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini