SEPANJANG sejarahnya yang telah berjalan selama ratusan tahun, Kerajaan Inggris telah memiliki puluhan penguasa yang duduk di singgasana. Salah satu di antara mereka adalah Lady Jane Grey, seorang ratu yang dengan masa pemerintahan paling singkat di antara penguasa Inggris lainnya.
Perempuan yang dikenal dengan nama Lady Jane Dudley, Ratu Sembilan Hari, atau Lady Jane yang Tragis itu memiliki kisah yang sesuai dengan nama-nama yang disematkan padanya. Ya, Lady Jane memang hanya berkuasa selama sembilan hari dan hidupnya berakhir dengan tragis.
Dia adalah cicit dari penguasa pertama dari Dinasti Tudor Inggris, Henry VII dan sepupu dekat Raja Edward VI yang menjadi pendahulunya.
Jane Grey adalah putri dari Henry Grey, 1st Duke of Suffolk dan istrinya Lady Frances Brandon, yang merupakan putri dari adik raja Henry VIII. Jane Grey digadang-gadang sebagai salah satu perempuan paling cerdas dan berpendidikan di zamannya. Dari gurunya cendekiawan Yunani, John Aylmer, Grey belajar Yunani, Latin, Ibrani, selain itu dia juga fasih berbicara dalam bahasa Italia dan Prancis.
Menyusul meninggalnya Raja Edward VI pada 1553, Kerajaan Inggris kesulitan untuk mencari penerus tahta. Edward VI adalah putra satu-satunya dari Raja Henry VIII yang naik tahta pada usia 10 tahun menyusul mangkatnya sang ayah pada 1547.
Dilansir Vintage News, Senin (30/1/2017), Pemerintahan Edward VI hanya berlangsung selama sekira enam tahun, karena pada usia 15 tahun, dia didiagnosis menderita penyakit yang mematikan. Dibesarkan sebagai seorang Protestan, Edward VI kemudian menyusun sebuah rencana mempengaruhi politik kerajaan agar tahta raja Inggris jatuh ke tangan penguasa Protestan. Di akhir hidupnya, Edward VI menunjuk sepupunya, Lady Jane Grey sebagai penerusnya.
Sepanjang pemerintahannya, Raja Edward VI yang masih belum cukup umur diwakilkan oleh seorang regent atau wali. Jabatan ini dipegang oleh 1st Duke of Northumberland, John Dudley ayah Lord Guilford Dudley yang merupakan suami dari Lady Jane Grey. Sang mertua mendukung keputusan Raja Edward VI untuk menjadikan Lady Jane Grey pewaris tahta. Maka, setelah kematian Raja Edward VI pada 6 Juli 1553, Jane diproklamirkan sebagai Ratu Inggris.
Sayangnya, tidak semua rakyat dan bangsawan Inggris setuju dengan penunjukan itu dan lebih memilih pewaris tahta berasal dari garis keturunan langsung keluarga kerajaan. Karena itu, setelah sembilan hari, Dewan kerajaan memproklamirkan Mary I, saudara tiri Edward VI, putri dari Henry VIII dari istri pertamanya, Catherine dari Aragon, sebagai Ratu Inggris yang baru.
Dalam waktu singkat, Mary I membatalkan reformasi Protestan yang dijalankan Edward VI dan menjatuhkan vonis mati atas tuduhan pengkhianatan kepada Lady Jane Grey.
Semula, nyawa Lady Jane Grey yang saat itu berusia 16 tahun diampuni oleh ratu Mary I, tetapi, kemudian ayahnya terlibat dalam pemberontakan Wyatt, yang menentang pernikahan Ratu Mary I dengan Raja Phillip dari Spanyol pada awal 1554. Setelah pemberontakan itu dipadamkan, Lady Jane Grey dan suaminya kembali dijatuhi hukuman mati atas tuduhan pengkhianatan.
Lady Jane Grey menghadapi eksekusinya dengan berani. Dia mengenakan sapu tangan putih untuk menutup matanya dan meminta kepada algojo untuk diantar ke balok pemenggalan di mana dia meletakkan kepalanya.
Pada 12 Februari 1554, hidup Lady Jean Grey berakhir tragis di balok pancungan. Dia menjadi Ratu Inggris selama sembilan hari dari 10 Juli 1553 sampai 19 Juli 1553, menjadikannya ratu dengan masa pemerintahan tersingkat sepanjang sejarah Inggris sampai saat ini.
(Rahman Asmardika)
News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.