Jelang Dialog Trump-Poroshenko, Komandan Pemberontak pro-Rusia Tewas

Wikanto Arungbudoyo, Okezone · Minggu 05 Februari 2017 02:02 WIB
https: img.okezone.com content 2017 02 05 18 1609755 jelang-dialog-trump-poroshenko-komandan-pemberontak-pro-rusia-tewas-YIivofNO3z.jpg Salah satu kendaraan lapis baja milik tentara Ukraina yang hancur diserang kelompok separatis (Foto: Gleb Garanich/Reuters)

LUHANSK – Komandan senior kelompok pemberontak pro-Russia di Ukraina Timur, Oleg Anashchenko, tewas akibat ledakan bom mobil di Luhansk. Juru bicara Luhansk People’s Republic (LPR) Andrey Marochko menyebut ledakan bom mobil tersebut sebagai sebuah aksi terorisme.

Andrey Marochko menduga agen dinas rahasia Ukraina berada di balik serangan tersebut. Ia yakin serangan dilakukan untuk mengganggu stabilitas di LPR. “Kami akan melacak para pelaku tindakan keji ini dan mereka akan menerima ganjaran setimpal,” ucap Marochko, sebagaimana dimuat BBC, Minggu (5/2/2017).

Para pejabat di Ibu Kota Kiev menolak tuduhan tersebut. Sementara itu, tentara Ukraina dan kelompok separatis pro-Rusia kembali terlibat konflik pada Sabtu 4 Februari 2017. Kedua kelompok tersebut baku tembak di sejumlah titik panas menjelang dialog antara Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump dengan Presiden Ukraina Petro Poroshenko lewat sambungan telefon.

Ukraina menuduh kelompok separatis mengarahkan tembakan artileri terlebih dahulu ke tentaranya di Avdiivka. Juru bicara Kepresidenan Ukraina Syatoslav Tsegolko menduga kelompok pemberontak menembak para pekerja yang tengah memperbaiki saluran listrik di Avdiivka. “Ukraina meminta Rusia segera menghentikan kontak senjata,” seru Tsegolko di akun Facebook, mengutip dari Reuters

Presiden Donald Trump dan Presiden Petro Poroshenko dijadwalkan berbincang lewat telefon sekira pukul 15.45 waktu setempat atau 03.45 waktu Indonesia Barat (WIB). Panggilan tersebut adalah yang pertama sejak Donald Trump dilantik sebagai presiden dan akan diteliti dengan ketat sebagai sinyal kebijakannya terhadap Rusia.

Sebagaimana diberitakan, AS menjatuhkan sanksi terhadap Rusia akibat ulah mereka menganeksasi Semenanjung Crimea, Ukraina pada 2014. Donald Trump beberapa waktu lalu menyampaikan akan meninjau ulang sanksi yang dijatuhkan kepada Moskow. Konflik antara Ukraina dan Rusia yang berlangsung sejak April 2014 itu telah menelan lebih dari 10 ribu korban jiwa.

(war)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini