Menurut Alla, saat memulai studi, hanya sedikit proktologis di Rusia. Dan di saat yang sama, tidak ada orang yang mau mengurusi bidang tersebut karena amat kotor. Tetapi, alasan itu tak menjadi penghalang bagi Alla.
Tak hanya saat ujian masuk, masa kuliah Alla pun amat berat dan penuh perjuangan.
"Sekali dalam sebulan, mahasiswa kedokteran beruntung bila bisa mendapatkan sebotol alkohol. Kami akan pergi ke pasar dan menukarnya, setengah liter untuk satu papan roti," ujarnya.
Alla di ruang operasi. (Foto: Getty Images/The Sun)
Ia menambahkan, para mahasiswa kedokteran mampu bertahan hidup karena saling berbagi dengan apa yang mereka punya. Orangtua Alla, yang juga sering kekurangan bahan makanan, mengirimi beberapa butir kentang dari kampung halamannya di Ryazan. Mahasiswa lain berbagai salo (lemak babi) dan beras.
"Saya ingat ada seorang teman membawa sepotong daging. Itu amat menakjubkan! Kami makan dari kiriman itu selama seminggu, membuat sup dan menggerogoti tulangnya hingga mengkilap. Itu cara kami bertahan," imbuhnya.