Advertisement
Advertisement
Advertisement
INFOGRAFIS INDEKS
Advertisement

NEWS STORY: Mengenal Lebih Dekat Figur Soeprijadi, Pencetus Pemberontakan PETA Blitar

Randy Wirayudha , Jurnalis-Minggu, 19 Februari 2017 |16:09 WIB
NEWS STORY: Mengenal Lebih Dekat Figur Soeprijadi, Pencetus Pemberontakan PETA Blitar
Ilustrasi
A
A
A

SHODANCHO Soeprijadi (EYD: Supriyadi) cukup dikenal khalayak sebagai seorang patriot yang mengenyam pendidikan kemiliteran PETA (Pembela Tanah Air). Pasukan bentukan Jepang yang tujuannya sebagai kekuatan cadangan kalau-kalau sekutu masuk ke Indonesia pada Perang Dunia II Front Pasifik.

Namun ada satu kejadian “berdarah” pada 14 Februari 1945 yang dikenal di banyak buku pelajaran sekolah, disebut dengan “Pemberontakan PETA Blitar”. Pencetusnya adalah Shodancho Soeprijadi, komandan Peleton I dari Kompi III/Bantuan Daidan Blitar.

Bersama beberapa peleton lainnya di Daidan Blitar, Soeprijadi menyerang pos-pos Jepang serta kantor Kempeitai (Polisi Khusus Jepang) di Kota Blitar. Motif pemberontakan ini adalah ketidaktahanan hati para prajurit PETA, melihat perlakuan semena-mena Jepang terhadap rakyat, terutama yang dijadikan romusha (pekerja paksa).

Sayangnya pemberontakan itu gagal. Pemadaman pemberontakan diupayakan tentara Jepang serta kekuatan bantuan Daidan PETA dari Malang dan Kediri. Beberapa pemberontak yang tertangkap, disiksa dan dipenggal di Ancol, Jakarta Utara.

Lantas, bagaimana Soeprijadi? Sang pencetus pemberontakan hilang secara misterius. Bahkan sosoknya batal dijadikan Panglima Tentara Keamanan Rakyat (TKR) pasca-Proklamasi 17 Agustus 1945, lantaran tak pernah muncul saat dicari-cari Presiden Soekarno.

Terlepas dari misteri hilangnya Soeprijadi, yuk sedikit mengenal akan sosoknya yang ternyata lahir di Trenggalek, Jawa Timur, pada 13 April 1923.

“Dia (Soeprijadi) kelahiran Trenggalek. Tapi ayahnya, Darmadi, dulu jadi pernah jadi Bupati Blitar. Tempat kelahirannya juga enggak jauh dari rumah saya sekarang, masih seputaran Kota Trenggalek,” ungkap M Febri Afnan, penggiat sejarah Trenggalek, kepada Okezone.

“Soeprijadi itu anak pertama dari istri pertama ayahnya (Rahayu). Kemudian dari istri kedua (ayahnya), Soeprijadi punya 10 saudara lain ibu. Jadi, Soeprijadi itu kakak tertua dari 12 bersaudara,” imbuhnya.

Sedangkan adik kandung Soeprijadi yang lahir dari rahim Rahayu yakni Wiyono, meninggal pada 1951. Rahayu, istri pertama dari ayah Soeprijadi, juga meninggal saat Soeprijadi masih kecil.

Lahir dari keluarga yang lumayan berkecukupan, Soeprijadi setidaknya bisa mengenyam pendidikan Europeesche Lagere School, atau sekolah zaman Hindia Belanda setara sekolah dasar (SD), hingga Meer Uitgebreid Lager Onderwijs (setingkat sekolah menengah pertama/SMP), serta sekolah pamong praja di Magelang.

Namun pendidikan “sipilnya” itu terganggu masa pendudukan Jepang pada 1942. Soeprijadi yang tak ingin tinggal diam, berangkat ke Tangerang untuk masuk Seinen Dojo (Barisan Pemuda, kemudian berubah PETA) dan lulus berpangkat Shodancho/Komandan Peleton setingkat letnan.

Sekembalinya ke Blitar setelah lulus, Soeprijadi ditempatkan di Daidan Blitar dengan memegang komando Peleton I dari Kompi III/Bantuan. Setelah berontak pada 14 Februari 1945, keberadaannya jadi tanda tanya besar sampai saat ini.

Kegegeran sempat muncul setelah seorang pria tua bernama Andaryoko, mengklaim bahwa dialah Soeprijadi yang sudah berganti nama jadi Andaryoko sejak 1950. Namun kejanggalan muncul setelah coba diidentifikasi saudara-saudara tiri Soeprijadi yang masih hidup.

“Waktu kasus Andaryoko yang mengaku-ngaku sebagai Soeprijadi, saudara-saudaranya Soeprijadi juga mengidentifikasi. Namun mereka heran, kok ‘Soeprijadi-nya’ (alias Andaryoko), tidak mengenal mereka,” tandas Febri.

(Randy Wirayudha)

News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.

      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Telusuri berita news lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement