Meski euforia Mega Kunjungan, masifnya rombongan dan logistik Raja Salman menyita perhatian publik, Ja'far mengingatkan untuk tidak terlalu fokus pada hal-hal tersebut. Sebaiknya, publik Indonesia fokus pada agenda-agenda riilnya saja.
"Soal investasi, misalnya, seberapa serius dan riil rencana itu serta bagaimana mereka merealisasikan janji investasi tersebut. Selebihnya, jumlah rombongan atau agenda berlibur ke Bali, itu bagian dari diplomasi, tapi bukan inti diplomasinya sendiri," tegas Ja'far.
Petugas mengecek kargo logistik Raja Salman. (Foto: Istimewa)
Ia menambahkan, kunjungan Raja Salman ke Indonesia sejatinya tidak hanya untuk mengukuhkan persahabatan tulus poros Saunesia. Agenda besar yang diusung rombongan Raja Salman, ujarnya, adalah kepentingan ekonomi.
"Tetapi mereka juga pasti perlu datang untuk membandingkan konteks antara Timur Tengah dan Asia Tenggara. Sebaliknya, Indonesia jangan hanya fokus pada Saunesia, tetapi melihat prospek dan potensi kerjasama dengan negara Timur Tengah lainnya," ujar Ja'far.
Sebagian logistik dibawa langsung ke Bali. (Foto: Istimewa)
Raja Salman akan berkunjung ke Indonesia pada 1-9 Maret. Selama tiga hari pertama, Raja Salman akan berada di Jakarta untuk menemui Presiden Joko Widodo. Kemudian, Raja Salman akan menghabiskan enam hari berikutnya di Bali.