Advertisement
Advertisement
Advertisement
INFOGRAFIS INDEKS
Advertisement

Hati-Hati! Akibat Genangan Air, 28 Ribu Titik Jalan Jakarta Berlubang

Koran SINDO , Jurnalis-Senin, 06 Maret 2017 |12:08 WIB
Hati-Hati! Akibat Genangan Air, 28 Ribu Titik Jalan Jakarta Berlubang
Ilustrasi (Dok.Okezone)
A
A
A

JAKARTA - Dinas Bina Marga DKI Jakarta mengeluhkan masih ada genangan di sejumlah ruas jalan di Ibu Kota. Kepala Bidang Pemeliharaan Dinas Bina Marga DKI Jakarta Suko Wibowo mengatakan, sejak Januari Februari lalu tercatat ada 28.000 titik jalan berlubang yang telah dibenahi Dinas Bina Marga bersama pasukan kuningnya di lima wilayah Kota Jakarta. Sebab genangan menjadi penyebab utama jalan kembali rusak meski baru diperbaiki. Namun, penanganan dengan sistem tambal sulam tersebut bersifat sementara sebab saat ini curah hujan masih terjadi di Jakarta.

Suko memastikan, seluruh jalan berlubang yang sudah ditangani sementara tersebut akan diperbaiki secara permanen ketika musim kemarau tiba. Penanganan permanen tunggu curah hujan habis. Alasannya karena aspal rentan terhadap air. ”Kalau kita kerjakan sekarang, kena hujan jebol. Kecuali beton kedap air,” kata Suko seperti dikutip dari Koran Sindo Minggu 5 Maret 2017.

Menurut Suko, penyebab utama kerusakan jalan ini adalah genangan akibat saluran air tidak berfungsi maksimal. Penyebab lainnya, galian utilitas dan beban berat kendaraan yang melintas. Dari hasil pengamatan di lapangan, kerusakan yang banyak ditemukan yakni lubang dengan diameter 1-2 meter dan kedalaman sekitar 10 sentimeter (cm). Menurut dia, kerusakan bergantung kondisi lalu lintas dan status jalan. Misalnya di jalan arteri yang kondisinya padat itu ratarata kerusakan berdiameter 10- 20 cm dengan kedalaman 5 cm.

”Kalau di jalan dengan lalu lintas yang padat, pengerjaan kita lakukan malam hari. Pengerjaan memakan waktu hanya seperempat sampai satu jam paling lama . Tapi, lubangnya banyak sekali. Satu ruas jalan bisa sampai 20 lubang. Kalau lubang berdekatan, sekalian kita tambal patching,” kata dia.

Berdasarkan data yang dihimpun, hampir setiap tahun Dinas Bina Marga DKI Jakarta mendapatkan anggaran perbaikan jalan rusak sekitar Rp300-400 miliar. Pola penanganannya pun hampir sama. Perbaikan yang bersifat sementara dilakukan dengan cara tambal sulam. Sedangkan perbaikan permanen dilakukan secara menyeluruh dengan mengaspal kembali ataupun betonisasi bagi tempat yang dinyatakan kerap tergenang. Pada 2016 penanganan permanen dilakukan dengan sistem recycling atau mengupas lapisan aspal hingga bagian fondasi dan kembali menatanya.

Namun, hasilnya pada awal 2017 banyak jalan yang sudah ditangani kembali tergenang dan mengalami kerusakan. Pengamat perkotaan Universitas Trisakti, Nirwono Joga mengatakan, perbaikan jalan yang dilakukan setiap tahun di Jakarta tidak akan bertahan lama sebab ketahanan jalan itu bergantung pada baiknya saluran air yang ada di sekitar jalan. Apa pun sistem dan kualitas aspal yang dipilih untuk memperbaiki jalan apabila tidak dibarengi dengan perbaikan saluran air, jalan di Jakarta tidak akan bertahan lima sampai tujuh tahun seperti yang terdapat dalam konsep jalan sebenarnya.

”Sifat alami aspal ataupun betonisasi akan rusak bila masih digenangi air. Jadi perbaiki dulu salurannya agar air yang ada di jalan cepat mengering,” ungkap dia. Untuk menambah kekuatan aspal dan menghemat biaya pemeliharaannya, lanjut Nirwono, DKI harus mempertegas kelas-kelas jalan. Kendaraan bertonase berat hanya boleh melintas di jalan tertentu. Nirwono juga menyarankan agar menggunakan konsep daur ulang aspal. Aspal yang dikelupas bawahnya digunakan kembali untuk memperbaiki jalan tersebut.

Terpenting, bahan campur daur ulang aspal dibuat sebaik mungkin sehingga kekuatan aspal bisa mencapai lima hingga tujuh tahun seperti di Eropa.”Konsep ini bisa hemat 30%,” jelas dia.

(Ulung Tranggana)

      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Telusuri berita news lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement