Bisikan Gaib Berujung Tragedi Mematikan

Agregasi Jpnn.com, Media · Rabu 05 April 2017 15:05 WIB
https: img.okezone.com content 2017 04 05 340 1659519 bisikan-gaib-berujung-tragedi-mematikan-AI8MwJAyNE.jpg

TARAKAN- Suasana di RT 1, Jembatan Bongkok, Kelurahan Karang Anyar Pantai, Kalimantan Utara yang sepi tiba-tiba berubah menjadi mencekam.

Puluhan anggota kepolisian bersenjata lengkap serta berompi antipeluru dibantu personel TNI mengepung sebuah rumah. Di dalam rumah itu ada Fajri (4) dan Aisyah (2) yang sedang disekap oleh pamannya, Fatah Hulah selama 3,5 jam.

Selain itu, Hulah juga menikam adik iparnya, Ernawati. Petugas sempat melakukan pendekatan persuasif terhadap Hulah. Namun, upaya petugas menemui jalan buntu.

Petugas akhirnya mengambil tindakan tegas dengan menembak Hulah. Istri Hulah, Santi menceritakan, kejadian menegangkan itu bermula pada pukul 13.00 Wita.

Saat itu, Erna sedang menidurkan Fajri dan Aisyah di ayunan. Tak berselang lama, Hulah masuk ke dalam rumah dalam keadaan basah kuyup karena habis terjun ke laut di sekitar rumah kontrakan Erna.

Saat itu, Erna mengingatkan Hulah untuk segera mengganti baju. “Pergi buka bajumu, nanti kau sakit,” tutur Santi menirukan kata-kata Erna dilansir jpnn, Rabu (5/4).

Bukannya langsung mengganti baju, Hulah malah pergi ke dapur untuk mengambil sebilah pisau. Tiba-tiba dia langsung menusuk tubuh Erna secara acak.

Santi yang saat itu berada di rumah menyaksikan perbuatan suaminya secara langsung. Santi berusaha menghentikan perbuatan Hulah dengan cara memeluknya. Sebab, darah segar sudah mengucur deras dari tubuh Erna.

“Ngeri saya lihat darah yang bercucuran dari tubuh kakak saya. Saya sempat peluk dia (Hulah) untuk menghentikan tikamannya, tetapi dia malah mengamuk dan mendorong saya. Saya juga nggak tahu kenapa dia tiba-tiba menyerang kakak. Mungkin dia stres,” ungkap Santi.

Melihat kondisi Erna bersimbah darah, Santi berteriak. Warga sekitar langsung berdatangan untuk menolong Erna. Warga langsung membawa korban ke Rumah Sakit Pertamedika Tarakan.

Salah seorang saksi mata, Udin yang turut membantu menghalangi pelaku mengaku sempat merebut pisau dari tangan Hulah.

“Tangan saya sampai luka karena merebut pisau dari dia (pelaku). Setelah itu langsung saya buang,” ungkap Udin.

Meski pisau sudah dibuang, Hulah ternyata tak kehabisan akal. Dia kembali masuk ke dalam rumah Erna untuk mengambil sebilah parang.

“Semua panik, saya langsung masuk rumah dan mengunci pintu. Takut dia mendatangi rumah saya. Apalagi di rumah ada ibu saya yang sedang sakit,” jelas Udin.

Sementara itu, Erna sempat meminta tolong kepada warga sekitar agar menolong kedua anaknya yang masih di dalam rumah.

Erna sempat minta tolong untuk ambil anaknya di dalam rumah, tetapi kami nggak bisa berbuat apa-apa, karena Hulah masih pegang parang,” ujar Udin.

Menurut Udin, Hulah memiliki perangai yang cukup baik. Bahkan, beberapa hari lalu, dia sempat ngobrol dengan Hulah tentang pengalaman pelaku yang pernah bekerja di kebun kelapa sawit, di Malaysia.

“Sikapnya hari ini (kemarin) di luar nalar saya. Saya pun nggak tahu penyebabnya apa. Mungkin masalah keluarga, ekonomi atau bahkan ada yang bisa membuatnya stres hingga berani melakukan itu,” tutur Udin.

Sementara itu, Ketua RT 22 Indah mengaku tak mengetahui penyebab Hulah nekat melakukan tindakan tersebut.

“Namun, saya dengar dari warga, Hulah itu sering merasakan bisikan-bisikan halus, yang mengatakan ingin membunuhnya. Bahkan ada bisikan yang menyuruhnya untuk membunuh orang,” cerita Indah.

(fmi)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini