PADA 20 April 1999, dua remaja bersenjata api melepaskan tembakan membabi-buta di Sekolah Menengah Atas Coumbine, di Littleton, Colorado, Amerika Serikat (AS). Insiden yang berlangsung selama sekira 40 menit itu menewaskan belasan korban dan melukai puluhan lainnya.
Di hari nahas itu pada pukul 11.20 siang, Dylan Klebold dan Eric Harris datang ke SMA Columbine mengenakan jas hujan dan senjata api. Penembakan dimulai dari luar sekolah sebelum kedua remaja itu masuk dan melanjutkan pembantaian.
Meski penembakan dilaporkan berakhir di siang hari, regu SWAT yang diterjunkan baru bisa masuk ke dalam sekolah sekira pukul 15.00. Saat itu, Dylan dan Eric telah membunuh 12 siswa dan guru dan melukai 23 orang lainnya. Keterangan saksi mata, Patti Nielson menyebutkan, kedua pelaku melakukan bunuh diri dengan senjata mereka sendiri.
Peristiwa itu mengejutkan publik AS dan menimbulkan reaksi masyarakat yang segera mencari kambing hitam, terkadang berdasarkan informasi palsu agar ada pihak yang bisa disalahkan.
Beberapa hari setelah penembakan, beredar isu yang menyebutkan Dylan dan Eric memilih korban mereka dari kalangan atlet, penganut Kristen dan siswa kulit hitam. Namun, penyelidikan lebih lanjut menunjukkan kedua pelaku memilih korban mereka secara acak.
Penyelidikan juga mengungkap, Dylan dan Eric semula berencana meledakkan dua bom di kafetaria dan memaksa para korban yang selamat dari ledakan itu keluar sehingga mudah ditembaki. Tetapi setelah bom buatan mereka gagal meledak, keduanya memutuskan masuk ke dalam sekolah dan melakukan pembantaian.
Virginia pada 2007.