Advertisement
Advertisement
Advertisement
INFOGRAFIS INDEKS
Advertisement

NEWS STORY: Goresan Sejarah Kelam Keberingasan si Macan Sidoarjo di "Periode Bersiap"

Randy Wirayudha , Jurnalis-Sabtu, 29 April 2017 |16:09 WIB
NEWS STORY: Goresan Sejarah Kelam Keberingasan si Macan Sidoarjo di
Mayor Zainal Sabaruddin Nasution (Foto: Capture buku Harry A Poeze)
A
A
A

SIAPA bilang dalam perang kemerdekaan itu melulu serdadu Belanda yang berstatus jahat, bengis, kejam? Siapa bilang pula bahwa pejuang-pejuang kita bersih dari sisi negatif di masa revolusi fisik 1945-1949?

Sebelum Belanda menggelar dua aksi polisionilnya (Agresi I Juli 1947 dan Agresi II Desember 1948), di negeri kita lebih dulu sempat dilanda “Masa/Periode Bersiap”. Tempo chaos pasca-proklamasi di mana oknum-oknum pemuda, laskar, hingga tentara republik menjagal banyak orang sipil.

Orang sipil yang berafiliasi dengan Belanda tentunya. Orang-orang pribumi maupun peranakan Tionghoa hingga Arab yang pro-Belanda, eks pegawai Belanda, orang-orang Indo Belanda, hingga pastinya orang-orang Belanda totok di masa akhir 1945 hingga awal 1946.

Masa di mana masyarakat, laskar, pemuda, belum tentu mau menuruti instruksi pemerintah RI yang masih bayi. Elemen-elemen rakyat yang hanya mau bertindak seenak perutnya di berbagai wilayah.

Sejarah kelam negeri kita soal yang begini ini yang sedianya, jarang diungkap. Entah karena terlalu sensitif atau memang masyarakat kita belum bisa jujur dengan sejarahnya sendiri.

Enggak percaya bahwa tidak semua pejuang kita menjalankan perjuangan suci? Contohnya tidak sedikit, lho. Tapi sebagai permulaan, baiknya penulis jabarkan satu dari sekian tokoh yang terkenal brutal, bengis nan beringas era Periode Bersiap- Mayor Zainal Sabaruddin Nasution.

“Mayor Sabaruddin sangat terkenal bengis. Ada buku tentang kisahnya, (judulnya) ‘Petualangan Mayor Sabarudin’. Dia pejuang, tepatnya PTKR (Polisi Tentara Keamanan Rakyat, kini Polisi Militer),” tutur aktivis sejarah Komunitas Roodebrug Soerabaia Ady Setiawan kepada Okezone.

Jadi Komandan Berkat Pendidikan PETA

Dari namanya yang punya marga sama dengan Panglima Divisi Siliwangi Kolonel Abdoel Haris Nasution, Sabaruddin memang berasal dari orangtua asli Batak. Pun begitu, Sabaruddin sendiri lahir di Aceh, tepatnya Kotaraja pada 1922.

Selepas makan bangku sekolah di MULO (Meer Uitgebreid Lager Onderwijs) atau sekolah setingkat menengah pertama, Sabaruddin cari nafkah jadi juru tulis di Kabupaten Sidoarjo dan menangani pembukuan di perkebunan tebu.

      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Telusuri berita news lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement