INDRAMAYU – Berbagai peristiwa di Jawa Barat, utamanya pesisir pantai utara (pantura) beserta para petarung republiknya di masa revolusi, hampir jarang terdengar. Seolah kalah dikenal secara nasional ketimbang peristiwa-peristiwa di wilayah Priangan macam Bandung, Garut, Tasikmalaya hingga Bogor.
Padahal, para gerilyawan di pantura tak kalah keras dan alot dalam melakukan perlawanan terhadap agresor Belanda. Kisah-kisah tentang masa revolusi fisik 1945-1949 kalah banyak dibukukan.
Kalaupun ingin tahu kisahnya, mesti rela ‘ngubek-ngubek’ berbagai informasi untuk mendengar sendiri dari pelakunya- yang tentunya kini bisa dihitung dengan jari. Penulis beruntung bertemu salah satunya, Prada (Purn) Kaswinah, setelah mendapat informasi dari rekan komunitas sejarah Front Bekassi Beny Rusmawan.
Perjalanan sekira 5 jam dari Bekasi, Alhamdulillah tak sia-sia. Tidak ada kesulitan berarti karena ketika bertanya pada seorang pemotor di pinggir jalan Haurgeulis, Kabupaten Indramayu, ternyata pemotor itu merupakan menantu Kaswinah.
Kendaraan kami pun menguntit motornya dari jalan raya memasuki sebuah gang yang jalannya, diapit pematang sawah nan cantik. Tibalah kami di depan kediaman Kaswinah di Desa Bunder, Kecamatan Widasari, Kabupaten Indramayu.
Sambutan hangat jadi “pemulih” rasa lelah berkendara 5 jam-an sepanjang Jalur Pantura, ditambah seduhan kopi hitam yang masih ‘ngebul’ sebagai sajian. Rumah kakek Kaswinah sedianya nampak masih layak, meski terisi berbagai perabotan yang mulai usang.