Ketika Islam belum lama masuk ke nusantara, alat musik serupa bedug justru bukan diperkenalkan masyarakat pribumi. Melainkan oleh pendatang tenar dari Negeri China, siapa lagi kalau bukan Laksamana Zheng He alias Cheng Ho.
Penjelajah yang juga muslim kelahiran China di masa Dinasti Ming itu, konon menghadiahkan sebuah alat tabuh besar seperti bedug kepada raja lokal di Semarang, untuk ditaruh di masjid sebagai tempat ibadah, sebagaimana yang ada di sejumlah kuil di Asia Timur (Jepang, China, Korea).
Sementara menurut kutipan sumber ‘Masa Lalu dalam Masa Kini’ oleh Kees van Dijk dalam artikel bertajuk ‘Perubahan Kontur Masjid’, bedug baru dikenal luas oleh masyarakat di Hindia Belanda (nama lama Indonesia di zaman kolonialisme Belanda), baru pada abad ke-20.
Meski begitu, sebelumnya di abad 14-16, bedug memang sudah ada walau belum dikenal luas dan tersebar di berbagai masjid. Di era itu, tepatnya di “Zaman Wali Songo”, bedug setidaknya baru banyak terdapat di masjid-masjid di wilayah Banten.