Jangankan untuk beli petasan seharga satu sen, untuk jajan sehari-hari saja Soekarno kecil tak pernah diberi ayahnya. Sang ayah meski bergelar “raden”, hanya jadi pekerja medioker bergaji 25 gulden per bulan.
Belum untuk bayar sewa rumah dan memenuhi kebutuhan keluarga empat kepala yang seringkali tidak mencukupi. Kebutuhan sang ayah, ibu, kakaknya Soekarmini dan Soekarno sendiri.
Pindah ke Mojokerto di usia enam tahun, Soekarno tinggal di daerah yang melarat. Meski begitu, Soekarno kecil tetap “makan bangku sekolahan” yang diupayakan ayahnya, agar Soekarno bisa bersekolah di Eerste Inlandsche School, tempat ayahnya bekerja.
“Ketika berumur enam tahun, kami pindah ke Modjokerto. Kami tinggal di daerah yang melarat dan keadaan tetangga-tetangga kami tidak berbeda dengan keadaan sekitar itu sendiri. Akan tetapi mereka mempunyai sisa uang sedikit untuk membeli pepaja atau jajan lainnja. Tapi aku tidak. Tidak pernah,” curhat Bung Karno di otobiografinya.
“Kegembiraan di hari Lebaran sama dengan hari Natal. Hari untuk berpesta dan berfitrah...di malam sebelum Lebaran sudah mendjadi kebiasaan bagi kanak-kanak untuk main petasan. Semua melakukannya kecuali aku. Di hari Lebaran aku berbaring seorang diri di kamar tidurku yang kecil. Dengan hati gundah aku mengintip keluar arah ke langit melalui lubang udara pada dinding bambu,” lanjutnya.