nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Jepang Protes Upaya Pendaftaran Dokumen Budak Seks ke PBB

Wikanto Arungbudoyo, Jurnalis · Rabu 12 Juli 2017 04:03 WIB
https: img.okeinfo.net content 2017 07 12 18 1734148 jepang-protes-upaya-pendaftaran-dokumen-budak-seks-ke-pbb-Jt6A4A5sfY.jpg Patung perempuan yang dianggap sebagai simbol budak seks di masa penjajahan Jepang (Foto: AFP)

TOKYO – Isu wanita penghibur yang dipaksa menjadi budak seks pada masa Perang Dunia II kembali memanaskan hubungan antara Jepang dengan Korea Selatan (Korsel). Tokyo mengajukan protes diplomatik atas langkah Seoul memasukkan dokumen ke 'Memory of The World' milik PBB.

Menteri Kesetaraan Gender Korsel, Chung Hyun-bak, mendukung penuh pendaftaran dokumen berisi kesaksian para budak seks tersebut ke UNESCO. Menteri Luar Negeri Jepang, Fumio Kishida, menyayangkan langkah tetangganya itu.

“Mendukung pendaftaran dokumen tersebut dapat bertentangan dengan misi dan tujuan awal pendirian UNESCO yang mendorong persahabatan dan pemahaman bersama di antara negara-negara anggota. Kami dengan tegas menyatakan posisi kami kepada Pemerintah Korsel,” ucap Kishida, sebagaimana dilansir The Star, Rabu (12/7/2017).

Chung Hyun-bak lewat juru bicaranya mengatakan, pemerintah tetap akan mendorong dokumen tersebut serta rencana membangun museum untuk mengenang para korban. Ia mengklaim, isu budak seks itu sudah menjadi isu global, bukan hanya bilateral antara Jepang dan Korsel. Hyun-bak sangat yakin dapat memperoleh dukungan dari komunitas internasional.

Negeri Ginseng dan Negeri Sakura sebenarnya sempat mencapai perjanjian yang dinyatakan final dan tidak bisa diubah pada 2015 terkait isu budak seks. Jepang saat itu menawarkan permintaan maaf resmi serta kompensasi senilai 1 miliar yen (setara Rp117 miliar) bagi para korban yang masih hidup.

Presiden Korsel Moon Jae-in sudah mengatakan kepada Perdana Menteri Shinzo Abe bahwa sebagian besar masyarakatnya tidak bisa menerima perjanjian tersebut. Moon menyatakan akan menyambut dengan tangan terbuka jika negosiasi kembali dilanjutkan. Akan tetapi, Kepala Kabinet Jepang Yoshihide Suga menyatakan negaranya tetap meminta Korsel untuk mengimplementasikan perjanjian itu.

Menurut sumber sejarah, sekira 200 ribu perempuan yang sebagian besar berasal dari Korea, dipaksa bekerja di rumah-rumah bordil untuk memuaskan nafsu para tentara militer Jepang. Sebagaimana diketahui, Negeri Matahari Terbit menjajah Semenanjung Korea dan China di masa Perang Dunia II.

(war)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini