Advertisement
Advertisement
Advertisement
INFOGRAFIS INDEKS
Advertisement

Cerita Ajudan Dimarahi Kang Dedi saat Meminta Rekomendasi Anaknya Masuk Sekolah Favorit

Mulyana , Jurnalis-Kamis, 13 Juli 2017 |21:48 WIB
Cerita Ajudan Dimarahi Kang Dedi saat Meminta Rekomendasi Anaknya Masuk Sekolah Favorit
Bupati Purwakarta Dedi Mulyadi. Foto dok Okezone
A
A
A

PURWAKARTA – Bupati Purwakarta, Jawa Barat, Dedi Mulyadi tak akan pandang bulu. Sikap tegasnya berlaku bagi siapapun, tak terkecuali ajudannya. Prinsip inilah yang mungkin juga dijalankannya selama dirinya memimpin kabupaten kecil ini.

Ketegasan Kang Dedi, seperti yang belum lama ini dialami Hendra (37), salah satu ajudannya. Cerita ini berawal saat Hendra ‎meminta rekomendasi bupati supaya anaknya bisa bersekolah di SMPN 3 Purwakarta.‎ Hal tersebut dilakukan, karena dirinya merasa tidak terima karena anaknya tidak lolos dalam seleksi Penerimaan Peserta Didik Baru di SMP favorit itu.

Namun reaksi Kang Dedi justru berbeda dengan yang dibayangannya. Dia justru malah dimarahi oleh Dedi sambil menolak permintaan rekomendasi darinya.

"Saya dimarahi bapak, saya akui saya salah," singkat Hendra saat dihubungi, Kamis (13/7/2017).

Sementara itu, saat diminta tanggapannya, Kang Dedi membeberkan alasan dirinya menolak permintaan ajudannya itu. Pria yang kini gemar mengenakan peci hitam itu tidak ingin proses PPDB tercoreng dengan hal-hal seperti itu. Jadi, dia ingin supaya PPDB lebih transparan dan bebas dari upaya backing-backingan.

"Passing Grade anaknya tidak cukup untuk masuk SMP yang dia mau. Tidak boleh kan kita memaksakan, harus ikuti aturan yang ada. Meskipun ajudan, saya tolak. Saya ingin semua berjalan objektif," jelas Dedi ketika dikonfirmasi.

Setelah menolak permintaan Hendra, Dedi lantas memberikan saran supaya ajudannya itu mendaftarkan anaknya di sekolah yang menerapkan passing grade yang sesuai. Hal ini dilakukan agar anak tersebut tetap terpenuhi hak memperoleh pendidikannya.

"Saya sudah memberikan arahan supaya anaknya itu didaftarkan ke sekolah yang passing grade-nya sesuai," tambah dia.

Dedi pun mengaku bukan hanya menerima satu permohonan rekomendasi agar anak atau saudara pemohon rekomendasi itu masuk ke sekolah favorit yang diinginkan. Ia telah menolak semua permohonan tersebut karena tidak ingin ada kecurangan yang terjadi dalam proses PPDB di wilayahnya.

"Saya tolak semua, saya imbau agar ikuti aturan. Sekolah di Purwakarta semua baik, kita saja yang menganggapnya favorit dan non favorit," pungkasnya.‎

(Rachmat Fahzry)

News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.

      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita news lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement