SEBELUM dikenal sebagai Republik Federasi Rusia, Negeri Beruang Merah bernama Republik Sosialis Uni Soviet (USSR). Namun, jauh sebelum berdirinya USSR yang berpaham komunis, Rusia dikuasai oleh Dinasti Romanov di bawah kekuasaan seorang Czar atau Kaisar.
Kekaisaran Rusia yang bertakhta selama tiga abad itu akhirnya tumbang di tangan Partai Bolshevik. Peristiwa pada 16 Juli 1918 mengawali runtuhnya Kekaisaran Rusia di bawah Dinasti Romanov. Czar Nicholas II dan keluarganya dibunuh di dalam istana oleh simpatisan Bolshevik.
Dinukil dari History, Minggu (16/7/2017), Nicholas II naik takhta pada 1896. Sayangnya, Nicholas tidak pernah dilatih serta tidak punya pengalaman memimpin sebelumnya. Padahal, ia begitu diharapkan oleh keluarga Romanov untuk mempertahankan dinasti di tengah desakan perubahan dari warga.
Bencana yang timbul akibat perang dengan Jepang memicu Revolusi Rusia pada 1905. Revolusi tersebut diakhiri setelah Nicholas mengesahkan dewan perwakilan yang dikenal dengan nama Duma serta menjanjikan reformasi konstitusional.
Akan tetapi, Nicholas mengingkari janjinya dengan menarik konsesi tersebut serta berulang kali membubarkan Duma karena dinilai melakukan perlawanan terhadapnya. Tindakan tersebut justru meningkatkan simpati masyarakat terhadap Bolshevik dan kelompok revolusioner lainnya.
Pada 1914, Nicholas kembali memimpin negaranya berkecimpung dalam perang yang menelan biaya besar, Perang Dunia I. Pemberontakan semakin nyata di dalam negeri akibat kelangkaan pangan, tentara yang tertekan secara psikologis akibat perang, dan kekalahan yang diterima dari tangan Jerman. Semua menampilkan buruknya Kekaisaran Rusia di tangan Nicholas.
Revolusi pecah di jalan-jalan Petrograd yang sekarang dikenal sebagai Saint Petersburg pada Maret 1917. Nicholas dipaksa untuk turun takhta sebulan kemudian. Pada November 1917, kaum sosialis radikal Bolshevik yang dipimpin Vladimir Lenin, mengambil alih kekuasaan di Rusia dari tangan pemerintahan sementara.
Perang Sipil kemudian pecah pada Juni 1918 ketika tentara Putih anti-Bolshevik merangsek masuk ke Yekaterinburg, lokasi di mana Nicholas II dan keluarganya tinggal, dalam sebuah kampanye terhadap Bolshevik. Otoritas lokal diminta untuk mencegah evakuasi keluarga Romanov.
Dalam sebuah pertemuan rahasia, hukuman mati dijatuhkan kepada keluarga kerajaan. Pada 16 Juli 1918 malam hari waktu setempat, Nicholas, Alexandra, lima orang anaknya, dan empat pelayan diminta untuk segera berganti pakaian dan pergi ke gudang bawah tanah di rumahnya.
Di sana, 11 orang itu diminta berdiri dalam dua baris untuk sesi foto bersama demi membuktikan rumor bahwa mereka tidak melarikan diri. Tiba-tiba, puluhan pria bersenjata masuk ke ruangan dan memberondong tembakan ke arah keluarga tersebut. Mereka yang masih bertahan dari berondongan peluru, ditikam hingga mati.
Jenazah Nicholas, Alexandra, dan tiga orang anaknya kemudian dimakamkan di sebuah hutan di dekat Yekaterinburg. Jenazah mereka baru ditemukan dalam penggalian pada 1991 dan teridentifikasi lewat tes DNA sekira dua tahun kemudian.
Namun, jenazah putra mahkota Pangeran Alexei dan putri bungsu bernama Anastasia tidak terhitung. Fakta itu memunculkan spekulasi bahwa Anastasia selamat dari eksekusi mati. Akan tetapi, spekulasi itu tidak pernah terbukti. Yang pasti, Kekaisaran Rusia runtuh dan digantikan oleh USSR sejak 1922 hingga berubah menjadi Republik Federasi Rusia pada 12 Juni 1990.
(Wikanto Arungbudoyo)
News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.