Meski begitu, Truman tidak gentar. Dia menahan lidahnya untuk tidak memberi tahu Ditaktor Soviet tersebut tentang Proyek Manhattan yang baru saja berhasil menguji bom atom pertama di dunia. Ia sadar akan besarnya kekuatan senjata itu, bahwa AS sekali lagi berada di atas angin dan masih unggul dari rivalnya.
Truman menyebut rahasia ini dalam buku hariannya sebagai rahasia besar yang bisa menjegal ekspansi Soviet ke timur Benua Biru. “Ada beberapa dinamit yang belum akan saya ledakkan sekarang,” katanya.
Masih dalam buku hariannya, Truman menjelaskan gaya diplomasi Stalin begitu lurus dan langsung pada intinya. Ia terang-terangan menyampaikan penilaiannya itu kepada yang bersangkutan dan mantan pengikut Lenin itu merasa tersanjung.
Pertemuan bilateral itu kemudian dilanjutkan dengan agenda makan siang bersama. Truman dan Stalin makan semeja didampingi para penasihatnya. Suasananya begitu cair, semua mengobrol dengan tawa dan sindiran halus layaknya kawan akrab. Tak lupa, para petinggi negara ini juga bersulang dan mengabadikan momen ini dengan foto bersama.
Truman menutup kisahnya hari itu dengan nada optimis. Dia yakin kesepakatan mereka akan berjalan sebagaimana mustinya. “Saya bisa menangani Stalin,” ucapnya.
Lalu menambahkan, “Dia (Stalin) adalah orang yang jujur, tetapi pintar luar binasa.”
(Silviana Dharma)
News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.