nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Aborsi Berujung Maut, Ibu Korban Sempat Mengobati Anaknya Pakai Bawang

Agregasi Haluan Sumbar, Jurnalis · Kamis 20 Juli 2017 12:48 WIB
https: img.okeinfo.net content 2017 07 20 340 1740523 aborsi-berujung-maut-ibu-korban-sempat-mengobati-anaknya-pakai-bawang-brJc0Rew5o.jpg (Foto: Haluan Sumbar)

PADANG - Ikut serta menggugurkan dengan tujuan untuk mematikan kandungan kekasinya, terdakwa Maizirwan (32) kembali dihadirkan di persidangan. Sidang agenda saksi digelar pada Pengadilan Negeri (PN) Klas 1 A Padang, Rabu 19 Juli 2017.

Dari tujuh saksi yang dihadirkan jaksa, empat di antaranya merupakan saksi dari pihak keluarga korban, yakni Nofrizal (ayah korban), Mursida (ibu korban), Afriyanti  (tante korban) dan Dasrul  (paman korban). Sedangkan tiga saksi merupakan dari klinik Raisa yang diperiksa secara terpisah.

Saksi dari pihak korban mengaku tidak mengetahui sama sekali tentang penyakit yang dialami korban. Mereka tahu setelah anaknya meninggal.

"Saya kenal dengan terdakwa tiga bulan sebelum meninggal anak saya dan saat itulah terdakwa sering main ke rumah. Kadang dia masuk ke dalam dan kadang di dalam mobilnya saja yang diparkirkannya di halaman rumah," kata Mursida.

Tambahnya, antara terdakwa dan korban memiliki hubungan yang sangat dekat. Melihat kedekatan mereka, ia sudah menasehati anaknya itu supaya bisa menjaga diri agar tidak terjadi hal yang tidak diinginkan.

Singkat cerita, saksi Mursida mengaku anaknya itu  pernah mengeluh bahwa ia sakit perut. Kemudian ia berinisiatif untuk membuatkan obat kampung dengan cara mengiris bawang dan dicampur minyak tanah.

"Saya menyangka Hesti ketika itu hanya sakit perut karena haid. Kemudian bawang merah dicampur minyak tadi, saya usapkan pada bagian perutnya itu, berharap sakitnya bisa hilang"k ata Mursida lagi.

Kemudian beberapa hari kemudian, terang Mursida, terdakwa datang ke rumah dan ingin membawa Hesti ke Bukittinggi bertujuan untuk pergi jalan-jalan. Sesampai di sana, Hesti menelefon bahwa menginap di rumah tantenya yakni Afriyanti.

"Sebelum ke Bukittinggi, Hesti meminjam uang kepada saya Rp1.500.000, katanya untuk jaga-jaga dan saya tidak tahu bahwa Hesti pergi Bukit Tinggi untuk berobat," tambah Mursida.

Terang saksi, sesampai Hesti di Bukittinggi, Afriyanti mengabarkan bahwa Hesti mengalami kejang-kejang. Ketika itu ia minta tolong kepada tantenya itu supaya mengurus anaknya tersebut.

Sementara saksi Afriyanti menyebutkan, sebelum korban meninggal, ia datang ke rumahnya diantar oleh terdakwa Maizirwan  yang ketika itu belum tahu siapa dia. Sesampai di rumah, korban langsung berlari ke WC.

"Dari dalam WC, saya mendengar Hesti tengah mengerang keras sambil berucap  tak menentu karena menahan sakit. Setelah tiga jam dalam WC, akhirnya Hesti keluar dan langsung memanggil cowoknya itu," terangnya.

Hesti ketika itu, tegas saksi,  tidak mau dibantu, katanya biarlah terdakwa saja yang membantunya. Kemudian terdakwa pun mengangkat Hesti ke atas kursi di ruang tamu dan saat itu juga, terdakwa langsung menelefon taksi.

"Setelah taksi ditelefon, saya tidak tahu kemana si Hesti ini akan dibawanya. Namun, saya menekankan kepada terdakwa, agar bertanggung jawab atas keadaan Hesti," tungkas saksi lagi.

Sedangkan saksi Nofrizal mengaku, anaknya meninggal diketahui dari mantan istrinya.  Sementara saksi Dasrul mengaku, atas meninggalnya korban diketahui dari orang di dekat rumahnya.

"Saya merasa aneh dan curiga atas meninggalnya korban. Sebab, informasinya korban meninggal di Bukittinggi, padahal yang mengantarkan ke Padang adalah ambulans dari Payakumbuh," terang Dasrul dan dibenarkan Nofrizal.

Tambahnya, kecurigaan itu semakin kuat setelah ia memandikan korban. Saat memandikan, terlihat pada bagian leher dan bawah ketiak korban membiru. Saat itulah ia menyarankan kepada Nofrizal untuk melaporkan kejadian ini ke pihak kepolisian.

Sedangkan tiga saksi dari klinik Raisa membenarkan, bahwa terdakwa memang pernah mengantar korban ke klinik untuk meminta pertolongan.

Sidang yang diketuai oleh Agnes dan didampingi oleh Sri Hartati sebagai hakim anggota mengundur sidang pekan depan dengan agenda masing keterangan saksi.

Sementara dalam dakwaan jaksa, Perbuatan terdakwa sebagaimana diatur dan diancam pidana dalam Pasal 194 Ayat (1) juncto Pasal 75 Ayat (2) UU Kesehatan RI Nomor 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan juncto Pasal 55 ke-1 KUHP.

Diketahui, seorang karyawati  PT. HM Sampoerna Bukittinggi, HRM (23) tewas pada Rabu (4/1), setelah melakukan aborsi janin yang ia kandung dari hasil hubungan gelapnya dengan sang kekasih.

Dalam kasus tersebut dua orang tersangka diamankan yakni berinisial M (32) dan MS (35).

Kabid Humas Polda Sumbar AKBP Syamsi menjelaskan, peristiwa itu berawal dari hubungan sepasang kekasih HRM dan M (32) yang sudah melakukan hubungan layaknya suami istri.

“Akibat perbuatan tersebut, HRM hamil. Panik, dengan adanya bayi didalam kandungan tanpa adanya ikatan pernikahan tersebut, mereka memutuskan untuk menggugurkan bayi itu,” terangnya di Polda Sumbar, Rabu (25/1).

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini