SELAMA sekira 20-an tahun pada abad ke-17 di pantai Madagaskar, terdapat sebuah koloni demokratik yang terdiri dari bajak laut terkenal yang hidup berdampingan dalam harmoni dan kedamaian. Pembangunan koloni itu didanai dengan harta rampasan para bajak laut dari kapal-kapal budak yang berlayar di Samudera Hindia. Tempat unik di tepi laut dinamakan Libertalia itu sempat berkembang dengan dalam waktu yang singkat sebelum hancur oleh kekuatan asing di luar kendali mereka.
Dilansir dari Atlas Obscura, Jumat (11/8/2017), hanya sedikit sumber yang menyebutkan mengenai Libertalia, atau yang oleh sebagian orang disebut dengan Libertatia. Cerita yang sering dijadikan rujukan adalah informasi berasal dari dua bab dalam buku “General History of Robbery and Murder of the Most Notorious Pirates” edisi kedua karya Charles Johnson yang terbit pada 1726.
Banyak pakar yang meyakini bahwa buku itu sebenarnya adalah karya dari aktivis politik Inggris, Daniel Defoe dengan menggunakan nama samaran Johnson. Namun, banyak kisah yang diceritakan dalam buku tersebut terbukti berasal dari kejadian sejarah, sehingga ada kemungkinan Libertalia atau tempat semacam itu memang pernah ada.
Kisah mengenai Libertalia dibuka dengan perkenalan dengan pendiri koloni itu, Kapten James Misson, seorang bangsawan Prancis yang tak tertarik dengan kehidupan karier dan memilih pergi untuk melihat dunia. Untuk mewujudkan keinginannya tersebut, Misson kemudian bergabung dalam kapal privateer Prancis, Victoire yang bertolak dari Marseille menuju ke Mediterania.
Dalam perjalannya, Misson bertemu dengan pendeta Dominika bernama Caraccioli yang kemudian ikut dalam pelayaran Victoire. Pria inilah yang nantinya menjadi orang kepercayaan Misson sekaligus otak di balik berdirinya Libertalia.
Caraccioli memiliki pemikiran bahwa setiap manusia terlahir bebas dan semua setara di mata Tuhan, sehingga dia tidak menyetujui adanya perbudakan. Hanya dalam waktu singkat ide tersebut telah diadopsi oleh banyak kru Victoire.
Saat kapten kapal itu terbunuh dalam sebuah pertempuran laut, Misson diangkat menjadi kapten Victoire yang baru. Dengan sebuah pidato yang membakar semangat, Misson dan Caraccioli meyakinkan para pelaut dari berbagai kebangsaan, Prancis, Belanda, Inggris dan Afrika menanggalkan kewarganegaraannya dan menjadi bajak laut tanpa kebangsaan atau negara demi mengabdikan diri untuk tujuan yang lebih besar.
Kelompok bajak laut ini kemudian mengarahkan tujuan mereka ke pantai selatan Afrika menuju ke Tanjung Harapan sambil menyerang kapal dagang dan kapal budak di sepanjang perjalanan. Mereka membebaskan banyak budak dan pelaut yang diperlakukan dengan buruk dan menjadikan mereka sebagai kru Victoire.
Dengan kapal penuh harta rampasan dari kapal-kapal tersebut, Misson dan Caraccili melanjutkan perjalanan ke pantai utara Madagaskar. Di sana mereka mendirikan pemukiman baru dengan nama Libertalia.
Para penduduk Libertalia menanggalkan kebangsaan lama mereka dan meyebut dirinya sebagai “Liberi”. Mereka juga mulai menyusun bahasa sendiri dengan menggabungkan bahasa asli dengan dialek lokal.