Advertisement
Advertisement
Advertisement
INFOGRAFIS INDEKS
Advertisement

OKEZONE FILES: Mendebarkan! Peran Barisan Pelopor dan Kisah Detik-Detik Proklamasi Kemerdekaan

Hantoro , Jurnalis-Kamis, 17 Agustus 2017 |08:01 WIB
OKEZONE FILES: Mendebarkan! Peran Barisan Pelopor dan Kisah Detik-Detik Proklamasi Kemerdekaan
Pengibaran bendera merah putih setelah mengucapkan proklamasi kemerdekaan. (Foto: Ist)
A
A
A

"Tidak jadi di (Lapangan) Ikada, tetapi di Jalan Pegangsaan Timur Nomor 56. Semua Barisan Pelopor yang datang dari berbagai jurusan supaya dicegat dan langsung menuju rumah Bung Karno di Pegangsaan Timur (sekarang Jalan Proklamasi) Nomor 56," ujar dr Muwardi kala itu.

Pengumuman tertulis cepat-cepat dibuat dan ditempel di batang pohon, terutama sekitar Lapangan Ikada. Sudiro yang mendapat tugas tersebut langsung menjalankannya, kemudian kembali ke rumah untuk "berpamitan" dengan istri-anak. Selanjutnya, ia menuju Pegangsaan Timur 56. Di sana sudah tampak Suwirjo, selaku penasihat staf Barisan Pelopor, berdiri di bagian depan lalu ke rumah induk yang menjadi lokasi proklamasi diucapkan.

Tampak sejumlah orang penting hadir di sana. Sebut saja Chudanco Pembela Tanah Air (Peta) Latief Hendraningrat, empat perempuan yang salah satunya Ibu Trimurti (wartawan, penulis, dan guru Indonesia), seorang Jepang yang disebut sebagai kempetai (polisi rahasia), kemudian Suroto yang merupakan wartawan Domei (Kantor Berita Antara).

Proklamasi pun segera dilakukan Soekarno, tapi muncul kabar Bung Hatta tidak ada di sana. Ada yang lapor, Bung Hatta tidak bersedia ikut memproklamirkan kemerdekaan RI. Padahal, Bung Karno menegaskan hanya mau mengucapkan proklamasi kemerdekaan bersama Mohammad Hatta. Hal itu ia tegaskan setiap kali para tokoh mengingatkannya ketika berada di dalam kamar.

Hari terlihat sudah cukup siang, bahkan ada yang menganggapnya sebagai waktu tepat untuk proklamasi. Sampai-sampai, dr Muwardi sempat mendesak Ir Soekarno agar meninggalkan saja Bung Hatta. Tapi, Bung Karno menjadi marah, sambil memberikan penegasan. "Kalau begitu silakan Mas Muwardi saja yang membacakan proklamasi," ujarnya.

Tindakan "mendesak" ini dilakukan sejumlah pihak agar proklamasi kemerdekaan tidak digagalkan pihak Jepang. Lalu Tuhan Yang Maha Esa mungkin memang sudah menghendakinya, jalan untuk mengarah ke sana mulai terbuka. Bung Hatta akhirnya datang menaiki mobil bersama rombongan. Diiringi Daidancho Abdulkadir dan Chudancho Latief Hendraningrat yang ditugaskan melakukan penjemputan.

Halaman:
      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita news lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement