KONFLIK berdarah yang memakan korban jiwa biasanya terjadi antara manusia dengan manusia lainnya. Alasan apapun dijadikan pembenaran untuk membunuh satu sama lain di medan perang. Tapi, tahukah Anda bila ternyata konflik berdarah juga pernah terjadi di dunia hewan?
Sejarah tersebut terkuak ketika pengamat simpanse, Jane Goodall, pergi ke Taman Nasional Gombe Stream di Tanzania untuk meneliti perilaku hewan tersebut di habitat aslinya untuk jangka panjang. Jane pergi atas ide penelitian yang diprakarsai Dokter Louis Leakey, paleontologi terkenal di Benua Afrika.
Louis Leakey mengirim tiga orang muridnya ke tiga tempat berbeda. Satu orang dikirim ke Kalimantan untuk meneliti orang utan, satu orang ke Rwanda untuk meneliti gorila, dan Jane Goodall ke Tanzania untuk mengamati simpanse.
Hingga dekade 1970, simpanse sering dianggap hewan yang penuh kedamaian karena wajahnya yang terlihat ramah dan lucu. Primata tersebut juga terkadang terlihat riang gembira, senang bercanda, dan tidak terlihat sedikit pun memiliki tendensi kekerasan.
Ternyata dugaan tersebut salah besar. Selama 55 tahun penelitiannya, Jane Goodall menyimpulkan bahwa simpanse tidak jauh berbeda dengan manusia. Simpanse ternyata memiliki kemampuan membentuk aliansi politik dan berserikat layaknya manusia biasa.
Konflik berdarah antara kelompok simpanse, yang di kemudian hari dikenal sebagai Perang Simpanse Gombe, kemungkinan besar dimulai pada 1971. Perang dipicu oleh meninggalnya seekor simpanse jantan pemimpin suatu kelompok.
Awalnya, Goodall tidak sadar bahwa kematian tersebut akan mengubah takdir kelompok secara drastis. Akan tetapi, beberapa tahun kemudian, konflik kekerasan mulai muncul. Kematian sang pemimpin ternyata membawa perpecahan di antara kelompok simpanse di Gombe.
Penelitian Jane Goodall mengungkapkan bahwa ternyata pejantan yang kuat tidak hanya menjadi pemimpin kelompok sendirian. Posisinya sebagai pemimpin, dilindungi oleh aliansi personal yang dibentuk sang pemimpin. Contohnya seekor simpanse bernama Leakey yang dikelilingi aliansi simpanse jantan yang kuat berpangkat letnan. Namun, kelompok lantas pecah ketika Leakey mati.
Simpanse yang berada di jalur sebagai pemimpin berikutnya diberi nama Humphrey oleh Jane Goodall. Akan tetapi, Humphrey tidak mendapatkan dukungan besar dari para pejantan. Dua ekor kakadk beradik simpanse bernama Charlie dan Hugh,menentang penunjukkan Humphrey sebagai ketua.
Selama beberapa tahun kemudian, kelompok Gombe pecah menjadi dua. Satu kelompok mendukung Humphrey dan satu lagi mendukung Charlie-Hugh. Kakak-beradik itu semacam membentuk faksi pemberontak di antara negara simpanse bernama Gombe.
Dinukil dari The Vintage News, Minggu (3/9/2017), Charlie dan Hugh lantas menguasai sisi selatan dan membentuk kumpulannya sendiri. Kelompok tersebut diberi nama Kahama oleh Jane Goodall. Humphrey menetap di utara dengan kelompok berjumlah lebih besar yang diberi nama Kasakela.
Kekerasan pertama kali benar-benar terjadi pada 1974 ketika seekor simpanse dari Kahama diserang oleh anggota Kasakela. Suatu hari, enam ekor Kasakela mendekati Godi, seekor simpanse jantan dari Kahama, yang sedang asyik makan di pohon.
Godi lantas ditarik ke bawah dan dipukuli dengan batu besar. Godi berhasil melarikan diri dari para penyerangnya. Akan tetapi, simpanse itu tidak pernah lagi terlihat dan diperkirakan mati akibat luka yang dideritanya. Serangan-serangan ke grup Kahama kemudian terjadi dengan cara yang sama.
Tentara Kasakela mengeksploitasi kelemahan simpanse dengan cara menyerang saat sedang makan. Meski dikenal senang hidup berkerumun, simpanse nyatanya lebih sering mencari makan sendiri-sendiri dan tidak membaginya dengan keluarga atau rekan-rekan. Demikian cara yang diambil Kasakela untuk menyerang Kahama.
Selama empat tahun, hampir seluruh pejantan di Kahama tewas dibunuh. Ketika pejantan hampir habis, Kasakela mengalihkan target ke betina. Tiga ekor simpanse betina diseret hingga ke wilayah kekuasaan Kasakela, sementara mereka yang menolak dibawa, dipukuli hingga mati.
Akhirnya, kelompok Kahama tidak lagi eksis pada penghujung 1978 ketika perang dinyatakan berakhir. Seluruh wilayah dikuasai oleh kelompok Kasakela. Akan tetapi, kemenangan tersebut tidak bertahan lama karena Kasakela kemudian menghadapi kelompok yang lebih superior, Kalande.
Setelah beberapa kali pertempuran, kelompok Kasakela sadar bahwa mereka sudah kalah. Kelompok Kasakela lantas mundur dari wilayah yang dulu diduduki Kahama hingga ke selatan.
Laporan Jane Goodall sendiri tidak begitu diterima dengan baik oleh sesama peneliti. Banyak kolega yang menuduhnya melakukan dosa etnologi, yaitu mentransfer perilaku manusia ke hewan. Ada pula yang menuduh Perang Gombe dipicu oleh Jane Goodall yang mengganggu proses seleksi alam para simpanse tersebut.
(Wikanto Arungbudoyo)
News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.