Badai baru melanda Galveston keesokan harinya, yakni pada Sabtu 8 September 1900. Kecepatan angin saat itu mencapai 115 mil per jam. Namun, badan pengukur angin di kota memperkirakan angin bertiup lebih kencang.
Badai besar akhirnya benar-benar menerjang wilayah Galveston pada pukul 15.00 waktu setempat. Badai kategori 4 itu datang dengan gelombang air setinggi 15 kaki atau sekira 5 meter. Akibatnya, hampir seluruh wilayah Galveston terendam air. Menurut Mercusuar Bolivar Point, ketinggian air bahkan mencapai 115 kaki atau sekira 38 meter.
Dahsyatnya badai membuat bangunan runtuh dan terjatuh. Terjangan air dan kencangnya angin merobek atap hampir semua bangunan di kota. Atap bangunan yang sebagian besar terbuat dari batu menjadi musibah terbesar bagi masyarakat di sana. Pasalnya, angin besar telah membuat atap-atap itu terlempar ke udara dan berjatuhan menimpa masyarakat.
Masyarakat pun berbondong-bondong mencari tempat yang lebih aman. Mereka berlindung di bawah bangunan-bangunan utama di kota tersebut. Panti asuhan dan gereja menjadi beberapa opsi tempat mereka menyelamatkan diri.
Masyarakat yang selamat mencari korban tewas. (Foto: Mediadrumworld.com/Daily Mail)
Namun, besarnya angin yang dibawa badai tersebut, ternyata berhasil meruntuhkan bangunan-bangunan yang digunakan untuk berlindung. Salah satu bangunan tersebut adalah Panti Asuhan St Mary. Tempat itu runtuh sehingga seluruh penduduk yang berada di sana tewas karena tertimpa reruntuhan bangunan.
Tak hanya panti asuhan, Biara Ursulin yang juga menjadi tempat berkumpulnya penduduk Galveston tak sanggup menahan kencangnya terjangan badai. Sebanyak 1.000 orang yang diperkirakan berkumpul di sana tewas setelah tembok penahan setinggi 10 kaki terjatuh. Seluruh bagian depan biara itu runtuh akibat badai tersebut.
Selain meluluhlantakkan bangunan, kapal-kapal yang berada di pelabuhan juga turut menjadi sasaran. Badai melempar satu kapal ke kapal lainnya. Setelah badai usai, beberapa kapal ditemukan terlempar hingga sejauh 30 mil.