nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

PM Kamboja Ancam Bubarkan Partai Oposisi jika Terus Membela Kem Sokha

Putri Ainur Islam, Jurnalis · Senin 11 September 2017 13:21 WIB
https: img-o.okeinfo.net content 2017 09 11 18 1773470 pm-kamboja-ancam-bubarkan-partai-oposisi-jika-terus-membela-kem-sokha-wYSYZGryE6.jpg

PHNOM PENH - Perdana Menteri (PM) Kamboja Hun Sen mengancam partai oposisi utama, Partai Penyelamat Nasional Kamboja, akan dibubarkan jika terus mendukung pemimpin yang ditahan, Kem Sokha, yang telah dikenai tuduhan pengkhianatan.

Kem Sokha ditangkap pada 3 September dan dituduh berencana melawan pemerintah dengan bantuan Amerika Serikat.

"Jika partai politik terus memblokade dan membela pengkhianat ini, itu berarti partai tersebut juga seorang pengkhianat, sehingga tidak ada waktu untuk membiarkan partai ini terlibat dalam proses demokrasi Kamboja lagi," ungkap Hun Sen pada sebuah upacara wisuda di Phnom Penh, dilansir dari Reuters, Senin (11/9/2017).

Dia menambahkan, jika tindakan pengkhianatan tersebut melibatkan seluruh partai, terdapat dalam undang-undang bahwa hal tersebut mengakinatkan pembubaran partai.

Sekadar diketahui, pimpinan partai oposisi Kamboja, Kem Sokha, ditangkap polisi di kediamannya pada Minggu 3 September pagi waktu setempat. Perdana Menteri Hun Sen menuduhnya ia melakukan pengkhianatan dibantu oleh pihak ketiga yaitu Amerika Serikat.

"Ini adalah tindakan pengkhianatan dan persekongkolan dengan negara asing, mengkhianati bangsanya sendiri. Harus segera diadakan penangkapan, " ungkap Hun Sen kepada sekelompok pekerja garmen. Kem Sokha pun membantah tuduhan tersebut. Ia mengatakan bahwa penangkapan tersebut bernuansa politik mengingat ia dan PM Hun Sen akan bersaing di Pemilu Kamboja 2018.

Sebagai informasi, salah satu harian paling independen di Kamboja, The Cambodia Daily, menerbitkan edisi terakhir mereka untuk Senin 4 September. Yang menarik, harian tersebut menurunkan headline bertajuk, ‘Jatuh ke Tangan Diktator’ yang merujuk kepada PM Kamboja yaitu Hun Sen, untuk edisi terakhir itu.

Di halaman depan, The Cambodia Daily memajang foto penahanan pemimpin oposisi Kamboja, Kem Sokha. Pria itu dituduh berkhianat dalam eskalasi kampanye yang signifikan terhadap Perdana Menteri (PM) Hun Sen. Harian tersebut juga menulis artikel mengenai penutupan redaksi.

Harian berbahasa Inggris itu memang dalam sebulan terakhir diberikan batas waktu untuk melunasi utang pajak sebesar USD6,3 juta (setara Rp84 miliar). Namun, The Cambodia Daily menganggap utang tersebut adalah hal yang mengada-ada.

“Kami telah bermain di 'kandang' Hun Sen selama kami terbit. Harian ini harus bangga karena telah menulis sejumlah isu-isu berat,” ujar Pemimpin Redaksi asal Amerika Serikat (AS), Jodie DeJonge, mengutip dari Reuters. (pai)

(rfa)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini