WARGA ibu kota Jakarta dan kota-kota besar di Indonesia pasti tidak asing lagi dengan warung tegal atau populer disebut warteg. Tempat makan yang konon sudah ada sejak masa pemerintahan Presiden Soekarno pada 1960-an dan dimiliki warga Kabupaten/Kota Tegal, Jawa Tengah, ini sangat diminati hampir semua orang karena menyediakan penganan yang lengkap, merakyat, serta murah meriah. Keberadaannya pun sangat mudah dijumpai, mulai pinggir jalan raya hingga di dalam gang-gang sempit.
Mayoritas warteg yang banyak ada sekarang berdiri di dekat-dekat perkantoran, lokasi proyek pembangunan, atau pusat perbelanjaan. Para pengusaha warteg memang diketahui menyasar orang-orang yang bekerja sampai berkunjung ke tempat-tempat itu sebagai pembeli makanannya. Bentuk bangunan dari warteg juga tidak jauh berbeda. Rata-rata seluas 3x3 meter, bercat cerah, memiliki beberapa pintu masuk, kaca yang ditulisi nama wartegnya, hingga etalase penuh sajian makanan.
(Baca: FOOD STORY: Muasal Warteg, Merantau ke Jakarta Orang Tegal Awalnya Menjual Nasi Ponggol)
Terlepas dari hal-hal yang dipaparkan itu, ternyata tidak semua warteg yang ada di sekitar kita merupakan asli milik orang Tegal. Banyak di antaranya yang ternyata dimiliki dan dikelola bukan oleh warga asli Tegal. Ada yang berasal dari daerah-daerah di sekitar Jawa Tengah yang masih berdekatan dengan Tegal, atau bahkan asal provinsi di ujung-ujung Pulau Jawa. Tapi jangan khawatir, sebagaimana dirangkum dari sejumlah sumber, Selasa (12/9/2017), berikut ini Okezone paparkan ciri-ciri warteg asli Tegal atau bukan.