AKHIR-akhir ini tersiar kabar bahwa Harimau Jawa keluar dari persembunyian setelah dinyatakan punah sejak pertengahan tahun 1970-an.
Mamat Rahmat harap-harap cemas. ''Berharap itu kenyataan, bahwa Harimau Jawa memang masih ada," ujarnya.
''Saya secara personal meyakini kucing besar tersebut masih ada, tapi cemasnya kalau 10 hari ini belum ketemu tanda-tandanya,'' kata Kepala Balai Taman Nasional Ujung Kulon tersebut kepada BBC Indonesia.
Pada 25 Agustus lalu, sebuah video trap, jenis kamera jebakan yang dilengkapi sensor gerak- berhasil memotret foto langka.
Kucing besar dengan loreng tampak seperti harimau tersebut berkeliaran di Padang Penggembalaan Cidaon, Taman Nasional Ujung Kulon, Provinsi Banten.
Dia berada di antara tiga ekor burung merak dan di dekatnya tergeletak bangkai banteng, yang diduga dimangsa oleh hewan tersebut.
Apa betul masih ada Harimau Jawa (Panthera tigris sondaicus) yang disangka punah, masih hidup di pulau sepadat Jawa?
Diduga Jantan Remaja
Secara visual, Mamat berpendapat hewan yang muncul di video trap memiliki loreng menyerupai harimau.
''Dari corak warna berbeda sekali. Lorengnya mendekati loreng Harimau Jawa,'' kata dia. Sedangkan dari ukuran, menurut Mamat, hewan tersebut cenderung masih kecil. ''Kami lihat kalau dari video itu kelihatannya jantan, masih anak remaja,'' kata dia.
(Baca juga: Warga Lereng Semeru Lihat Harimau Jawa)
Mamat yang sudah bertugas di belantara Ujung Kulon sejak 1998 mendapat laporan yang terus berulang, yakni tentang keberadaan lodaya, sebutan dalam bahasa Sunda untuk Harimau Jawa.
''Pak, kami ketemu dengan lodaya,'' begitu Mamat menirukan ucapan peziarah Sanghiyang Sirah di kawasan Ujung Kulon.
''Kami ketemu, pak, lodaya makan banteng. Lodaya sedang berjemur.''
Mamat pun mengaku penasaran. Akhirnya diputuskan, bulan lalu video trap mulai ditanam di perbukitan Gunung Payung.
Hasilnya, kata Mamat, yang paling banyak terekam adalah rusa, kijang, kancil, dan babi hutan. Dan, saat itu hujan masih turun di Ujung Kulon.
''Berbeda dengan sekarang. Kondisi sekarang kemarau, maka mangsa turun ke bawah mencari sumber air di padang penggembalaan. Ini logika kenapa predator tersebut ada di sana, mengikuti pergerakan dari mangsanya,'' kata dia.
Ekspedisi Kucing Besar
''Tim kami sudah menemukan kotoran kucing, cuma apakah itu kotoran macan tutul atau yang lainnya, masih kami kumpulkan untuk dianalisis,'' ungkap Mamat.
Setelah menerima laporan petugas lapangan yang berhasil mendapat video hewan yang diduga Harimau Jawa, Balai Taman Nasional Ujung Kulon membentuk tim khusus.
Gunanya memastikan, apakah hewan yang tampak memangsa banteng tersebut dari jenis Macan Tutul Jawa (Panthera pardus melas) atau Harimau Jawa (Panthera tigris sondaicus).
Tim berangkat menyisir lokasi dan mengambil sampel kotoran, cakaran, serta rambut untuk kemudian dianalisis DNA-nya. Sekaligus memasang video di lapangan.
''Mereka masih di lapangan. Kami rencanakan tim bekerja selama 10 hari. Sampai saat ini belum ada hasil, karena tim masih bekerja di lapangan.''
Wilayah yang disisir oleh tim diawali dari titik penemuan gambar, yakni Padang Penggembalaan Cidaon, di seberang Pulau Peucang. Dari situ tim terbagi dua, satu menyisir ke arah Gunung Payung, sedangkan lainnya ke arah perbukitan Talanca yang menurut Mamat merupakan habitat kucing besar.
Masyarakat dilibatkan dalam tim, kata Mamat. Ada juga seorang pengamat yang berpengalaman melakukan survei Harimau Sumatera.
Temuan terbaru terkait Harimau Jawa menjawab sejumlah keraguan tentang status kepunahan satwa tersebut.
Sejak 1997, seorang peneliti bernama Didik Raharyono meyakini Harimau Jawa belum punah. Pada sebuah seminar di kampus Universitas Gadjah Mada Yogyakarta sembilan tahun lalu, dia mengaku punya bukti bekas aktivitas satwa tersebut.
Tahun 2004, Didik mengaku menjumpai kotoran Harimau Jawa dan di tahun 2006 dia mencatat kesaksian seorang anggota TNI yang berjumpa dengan harimau tersebut.
Dia juga mengaku punya sampel kulit harimau loreng yang dibunuh dari Jawa Tengah dan sisa kuku dengan darah milik Harimau Jawa asal Jawa Barat.
Diwawancarai oleh laman Mongabay, Didik meminta peninjauan ulang atas status kepunahan Harimau Jawa.
(Qur'anul Hidayat)
News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.