Di awal masa pemerintahannya, pria yang lahir pada 19 November 1831 itu berhasil memimpin AS dengan baik. Mantan Mayor Jenderal Tentara Amerika Serikat itu telah membuat beberapa program guna memajukan Negeri Paman Sam. Bersama Arthur, anak bungsu dari empat bersaudara itu merencanakan pembangunan secara besar-besaran di Amerika Serikat.
Namun, nasib malang harus menimpanya. Empat bulan setelah dilantik menjadi Presiden AS, Garfield ditembak oleh seorang pria bernama Charles J Guiteau. Penembakan itu terjadi ketika ia tengah berjalan di ruang tunggu stasiun kereta api di Washington DC. Guiteau mengaku telah membunuh Garfield karena dia menolak untuk memberi Guiteau sebuah janji politik.
Timah panas yang ditembakkan mengenai bagian punggung dan lengan suami dari Lucretia Rudolph Garfield itu. Akibatnya, Garfield menderita sakit parah dan harus menjalani perawatan secara intensif.
Setelah dirawat beberapa lama, sakit yang diderita Garfield tak kunjung sembuh. Melihat kondisinya yang tak juga membaik, keluarga pun memutuskan untuk memindahkannya ke rumah sakit di dekat rumahnya agar dapat berkumpul. Garfield akhirnya dipindahkan ke wilayah pantai Elberon.
Presiden ke-20 Amerika Serikat, James A Garfield dan wakilnya, Chester A Arthur. (Foto: Getty Images)
Selama Garfield menjalani pemulihan, Arthur pun diangkat menjadi pelaksana tugas (PLT) presiden. Ia diminta untuk menggantikan tugas-tugas yang seharusnya dikerjakan oleh presiden yang baru diangkat tersebut.
Setelah bertahan menahan rasa sakitnya selama 79 hari, presiden ke-20 Amerika Serikat itu mengembuskan napas terakhirnya. Ia meninggal dunia pada 19 September 1881 karena keracunan darah. Berdasarkan hasil autopsi, luka tembakan tersebut mengakibatkan aneurisme atau pelebaran nadi akibat melemahnya dinding pembuluh nadi karena suatu penyakit. Masyarakat AS pun berduka. Pemakaman Garfield diadakan di tiga tempat.