"Masyarakat Bali berbondong-bondong ke Besakih. Saat letusan terjadi ada upacara Eka Dasa Rudra. Kami sedang di Besakih beserta para pendeta dan ribuan umat. Kami diminta orang tua pakai topi supaya tak kena debu dan kerikil-kerikil dari letusan itu," ujarnya.
"Tak ada persiapan masker, hidung telanjang, mata telanjang selama satu tahun."
"Upacara berlangsung satu bulan dan persiapan, selama tiga bulan sebelumnya. Persiapan dilakukan di tengah letusan dan saat terjadi tanda-tanda letusan."
"Belakangan tahu bahwa ada warning (peringatan) dari pemerintah pusat waktu itu tentang bahaya. Meminta setelah puncak karya agar tanggal 9 maret Besakih dikosongkan tapi para tokoh umat Hindu dan para pendeta bertekad menyelesaikan upacara besar di Besakih."
"Kami sangat bersukyur Eka Dasa Ludra berjalan baik...tak ada hembusan panas, seolah kami dilindungi Tuhan Yang Maha Kuasa dan melindungi tempat paling disucikan di seluruh Bali."
Nyoman Adi Wiryatama
"Saat itu terjadi hujan abu dan hujan pasir. Saya ke ladang dan gelap sekali. Kami pakai payung kecil yang jadi berat sekali karena hujan pasir makin deras, bumi menjadi gelap, dipanggil pulang oleh orang tua," kata Adi yang saat ini menjabat sebagai Ketua DPRD Bali.
"Saat itu jam 9 pagi, matahari tak ada... orang tua menyalakan lampu petromak. Kami dikumpulkan di satu bangunan. Cerita orang tua, dunia akan kiamat."
"Seingat saya gelapnya satu hari penuh, hujan abu tiga bulanan dan terakhir hujan pasir satu minggu kira-kira."
Adi juga mengatakan akibat letusan gunung banyak yang mengalami kesulitan karena ladang-ladang rusak.
"Sulit sekali (kondisinya), (area) pertanian jadi rusak, mati semua tanaman, ternak tak mau makan karena rumput berbau belerang, rumput kita bawa ke sungai dan kita cuci, kadang mau makan kadang tidak (dan akibatnya) ternak jadi kurus."