PBB mengatakan bahwa anak-anak Rohingya meninggalkan Myanmar sejak kekerasan meletus di negara bagian Rakhine pada akhir Agustus. Jumlah kedatangan saat ini mencapai 536.000, di mana sekira 320.000 adalah anak-anak, sepertiganya berumur di bawah lima tahun.
Pelarian etnis Rohingya dimulai ketika tentara meluncurkan serangan ke desa-desa yang didiami oleh Muslim Rohingya di utara Rakhine. Namun, Pemerintah Myanmar menolak klaim tentang pembakaran desa dan pembunuhan warga yang tidak bersalah, dengan mengatakan bahwa pasukan militer hanya mencari tersangka militan yang melakukan serangan mematikan ke pos perbatasan dan polisi pada 25 Agustus.
Namun, para aktivis hak asasi manusia dan organisasi internasional mendokumentasikan keterangan banyak orang tentang pemerkosaan dan pembantaian terhadap Muslim Rohingya. Para pengungsi terus menceritakan kekerasan yang mereka derita saat masih berada di Rakhine.
BACA JUGA: Pengungsi Makin Membeludak, Bangladesh Akan Bangun Kamp Terbesar di Dunia untuk Muslim Rohingya
PBB dan badan-badan lain juga telah memperingatkan masalah kemanusiaan yang dapat terjadi di kamp-kamp pengungsi yang padat di Bangladesh, terutama mengingat tingginya jumlah anak-anak dan perempuan rentan yang tinggal di daerah tersebut.